Minggu, 21 November 2021

VISI GURU PENGGERAK

Sejak kecil, kita sering ditanya, apa cita-citamu? Ada yang menjawab, mau jadi tentara, polisi, dokter, perawat, guru, pilot dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu, kadang cita-cita seseorang itu berubah. Sesuai dengan motivasinya. Berbicara tentang cita-cita sama halnya berbicara tentang impian, atau harapan. Harapan, cita-cita atau impian kadang terwujud atau tidak. Harapan, cita-cita, atau impian disebut dengan visi. Visi merupakan awal dari usaha untuk menggapai sesuatu yang kita impikan. Visi memberikan arah dan motivasi untuk meraih perubahan yang diimpikan atau dicita-citakan. Sebagai seorang guru, terlebih guru penggerak tentu memiliki visi. Visi dari guru penggerak adalah mewujudkan anak-anak Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila. Yaitu pelajar yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, mandiri, inovatif, berkebhinekaan global, mampu hidup bergotong royong, serta mampu bernalar kritis. Untuk mencapai visi tersebut, tentunya guru harus memiliki nilai yang melekat dalam dirinya. Nilai-nilai tersebut adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Di samping nilai-nilai tersebut, seorang guru penggerak juga harus memainkan perannya dalam dunia pendidikan yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, mampu menggerakkan kelompok-kelompok praktisi, mampu menjadi coach atau pelatih bagi guru-guru lain, mampu mendorong kerja sama antar guru, dan mendorong kepemimpinan yang berorientasi pada murid. Visi Guru Penggerak dengan menerapkan paradigma Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali potensi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi) diharapkan dapat mewujudkan merdeka belajar bagi murid dengan guru sebagai fasilitatornya. Visi Guru Penggerak yang coba kami usung adalah Guru MIKIR (Mandiri, Inovatif,Kreatif dan Reflektif). Guru yang MIKIR diharapkan dapat mencetak murid yang MANIS (Mandiri dan Eksis). Dengan guru MIKIR yang mewujudkan murid MANIS, berdasarkan paradigma IA dengan tahapan BAGJA, maka iklim belajar yang positif akan dapat dimunculkan. Iklim belajar positif dapat dimulai dari berpikir yang positif mulai dari hal yang paling kecil dan mulai dari diri sendiri, maka akan muncul perkataan – perkataan / ungkapan – ungkapan positif, sehingga bisa mewujudkan rasa yang positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Salam Guru Penggerak_Maju Bersama_Indonesia Maju

2 komentar:

  Pembelajaran Berdiferensiasi Produk Pada Mapel Seni Rupa Kelas 4 B SDN Sendangmulyo 02 Korsatpen Tembalang Kota Semarang   A.     PENG...