Rabu, 01 Desember 2021

VISI GURU PENGGERAK

Modul 1.3 Visi Guru Penggerak Visi: Mengelola Perubahan yang Positif Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Mungkin saja, sebagian guru juga menuliskan mimpi itu pada gambaran visinya. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan. Perlu perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Inilah salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Visi membantu kita untuk melihat kondisi saat ini sebagai garis “start” dan membayangkan garis “finish” seperti apa yang ingin dicapai. Ini bagaikan seorang pelari yang perlu mengetahui garis “start” dan garis “finish” bahkan sebelum ia benar-benar berlari melintasi jalur lari tersebut. Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah. Budaya sekolah berarti merujuk pada kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan di sekolah. Kebiasaan ini dapat berupa sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi. Hal ini berarti butuh partisipasi dari semua warga sekolah. Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat bertahap. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, guru hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di dalam pengaruhnya untuk menjalani proses perubahan ini bersama-sama. Hal ini perlu dilakukan dengan niatan belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam modul ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita impikan. Dalam sebuah video di Youtube, Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan. Dalam video di Youtube tersebut, Cooperider juga menceritakan bahwa pendapatnya ini sejalan dengan pendapat Peter Drucker, seorang Begawan dalam dunia kepemimpinan dan manajemen. Menurut Drucker, kepemimpinan dan manajemen adalah keabadian. Oleh sebab itu, seorang pemimpin bertugas menyelaraskan kekuatan yang dimiliki organisasi. Caranya adalah dengan mengupayakan agar kelemahan suatu sistem dalam organisasi menjadi tidak relevan, karena semua aspek dalam organisasi fokus pada penyelarasan kekuatan. Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah. Inilah langkah-langkah yang perlu kita ikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang kita telah impikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama. Di tahap ini, kita merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran. Pada tahapan ini, kita mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi. Pada tahapan ini, kita dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana. Di tahapan ini, kita dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi. Di bagian ini, kita memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan. Semoga semua visi yang telah kita susun memperkaya “persenjataan” dalam meniti langkah-langkah kecil hingga terwujudnya visi kita mengenai murid. Pada awal penerapannya, mungkin kita akan merasakan kejanggalan atau meragukan keberhasilannya. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba dan menikmati kurva belajarnya. Kurva belajar yang kita akan alami mirip seperti seekor anak burung yang belajar terbang. Pada saat pertama kali terbang, jalur terbang anak burung tidak akan langsung ke atas, tapi akan ke bawah dahulu kemudian meliuk ke atas sebagaimana terlihat pada gambar di atas. Dengan merujuk pada kurva belajar ini, maka marilah terus percaya bahwa pendekatan positif akan membuahkan hasil yang lebih luar biasa. Ini adalah kebiasaan baru. Sumber : Modul CGP

Sabtu, 27 November 2021

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL - METODE INKUIRI APRESIATIF MODUL 1.3.A.7.1

Demonstrasi Kontekstual - Menerapkan Inkuiri Apresiatif “Strategi Pengenalan Kekuatan dan Potensi Murid” Sebagai pendidik, merupakan hal yang lumrah terjadi ketika perhatian kita lebih banyak tertuju pada murid yang secara akademik berprestasi atau malah lebih memfokuskan perhatian pada murid ‘bermasalah’ atau murid yang mengalami kesulitan untuk dididik. Namun, seringkali kita lupa bahwa mayoritas murid yang kita miliki adalah murid-murid yang tampak biasa saja. Murid-murid ini memiliki kemungkinan untuk kita abaikan karena tidak ada hal menonjol yang mereka miliki. Namun, perlu ada perubahan dalam memandang mereka dan mendidik mereka. Ingat kembali tujuan pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Pedoman ini adalah Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan menjadi pegangan untuk para pendidik di ruang belajar yang lebih kecil. Profil ini tidak hanya dimiliki oleh murid berprestasi secara akademik atau murid yang menonjol dalam bakat lainnya, profil pelajar Pancasila ini diharapkan dimiliki oleh seluruh murid Anda di dalam kelas. Oleh karena itu, pada Tugas Individu kali ini, Bapak/Ibu diminta membuat rancangan tindakan perubahan berdasarkan tahapan B-A-G-J-A untuk mulai mengubah arah didikan dengan lebih adil dan berpihak pada murid, khususnya pada murid yang selama ini jarang diperhatikan. Temukan potensi dan kekuatan yang mereka miliki serta temukan juga hal baru apa yang dapat Anda lakukan untuk menggali potensi mereka. “Kekuatan dan Potensi Murid” Fokuskan diri Anda untuk menjalankan B-A-G-J-A tahap demi tahap. Susunlah pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengungkap hal paling menyenangkan, positif atau menarik apa yang Anda temukan saat berinteraksi dengan murid yang tampak biasa ini. Bukalah ruang dialog bersama murid-murid ini untuk menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai di tiap tahapan B-A-G-J-A Anda. Model B-A-G-J-A merupakan praktik membawakan proses perubahan berbasis kekuatan. Untuk memperjelas gambaran tugas yang harus Anda kerjakan, pada kesempatan ini kita akan ambil contoh di tahapan Buat pertanyaan utama (inisial B dalam B-A-G-J-A). Tahapan ini adalah tahap menemukan apa yang ingin Anda selidiki menjadi bentuk pertanyaan. Misalnya: Kita akan menyelidiki apa saja yang potensi yang murid-murid biasa ini tunjukkan ketika belajar. Oleh karena itu, pertanyaan utama penyelidikannya antara lain adalah: • Hal baik apa yang dapat Anda temukan dari murid rata-rata ini dalam kegiatan belajar? • Hal menarik apa yang dapat Anda pelajari dari respon, aktivitas, dan hasil belajar yang murid rata-rata ini? Jalankan setiap tahapan dan pertanyaan dalam model B-A-G-J-A secara lengkap. Pada pembelajaran sebelumnya, Anda telah membuat pemetaan kekuatan. Nah, Anda dapat memanfaatkan informasi dalam daftar tersebut. Kemudian susunlah dengan sungguh-sungguh sebuah rencana rekomendasi seolah-olah Anda akan segera melaksanakannya 1.3.a.7.1. Demonstrasi Kontekstual - Menerapkan Inkuiri Apresiatif PRAKARSA PERUBAHAN BAGAIMANA CARA MENINGKATKAN KEBERANIAN BERPENDAPAT ANAK TAHAPAN Pertanyaan Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan B-uat Pertanyaan (Define) 1. Mengapa anak tidak berani dalam menyampaikan pendapat? 2. Bagaimana solusi yang dapat saya lakukan untuk menumbuhkan sikap berani berpendapat? • Memberi anak motivasi tentang manfaat dari berani berpendapat • Berdiskusi dengan rekan guru sejawat. • Mencari informasi melalui media sosial. • Mencoba dengan metode yang sudah diketahui. • Membiasakan semua anak mempunyai kesempatan berpendapat. A-mbil Pelajaran (Discover) 1. Mencari tahu siapakah orang yang sudah berhasil menumbuhkan sikap berani anak berpendapat? 2. Bagaiamana cara dia menumbuhkannya keberanian berpendapat? 3. Dalam bentuk Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam dalam menumbuhkan sikap berani tersebut ? 4. Situasi yang seperti apakah yang dapat mendukung tumbuhnya sikap berani ini dalam suatu kegiatan ? 5. Keterampilan-keterampilan apa saja yang harus dikuasai dalam mendukung sikap berani pada anak ? • Berkonsultasi dengan kepala sekolah dan guru-guru yang pernah berhasil menerapkan suatu metode dalam menumbuhkan sikap berani pada anak. • Mencari tahu dan mencatat bagiamana dia mengelola kelas dalam suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap berani anak. • Mengidentifikasi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan seorang guru dalam menumbuhkan sikap berani anak. • Mengumpulkan fakta dari beberapa orang yang berhasil menumbuhkan keberanian berpendapat. • Memggali pengalaman keberhasilan dari anak-anak yang berani berpendapat. • Menceritakan kepada anak-anak perubahan yang baik yang terjadi pada anak-anak yang sudah berani berpendapat. G-ali Mimpi (Dream) 1. Bisakah anak-anak saya semuanya berani berpendapat dalam situasi apapun? 2. Apa yang saya rasakan ketika melihat sikap berani sudah tumbuh pada anak murid saya ? 3. Apa saja hal-hal baru yang bisa saya lakukan setelah sikap berani ini tumbuh ? 4. Apa hal-hal yang dapat mendukung agar sikap berani terus tumbuh dan menjadi karakter peserta didik ? • Membuat skema atau model belajar yang mampu menumbuhkan kemampuan berpendapat. • Menjadikan kelas adalah milik bersama bukan milik guru atau beberapa anak. • Menyakinkan kepada anak bahwa berani itu seru. • Membuat rancangan sikap dan suasana diri. • Mencoba mengatur dan mengkondisikan lingkungan kelas. • Mempraktekkan kebiasan-kebiasan tersebut secara kontinyu. • Menghidupkan suasana kelas yang menyenangkan. • Komunikasi multi arah. J-abarkan Rencana (Desing) 1. Berapa lama target untuk mencapai sikap berani tersebut ? 2. Apa tindakan-tindakan yang bisa mendukung usaha mencapai tumbuhnya sikap berani tersebut ? 3. Bagaimana mengukur kemajuan dan progres langkah langkah tersebut ? 4. Bagaimana cara saling menyemangati dan mengisi usaha bersama mencapai tumbuhnya sikap berani peserta didik ? 5. Apa langkah paling sederhana atau langkah pertama yang bisa dilakukan ? • Bertanya motivasi kepada siswa yang berani berpendapat. • Bertanya kepada siswa tentang ketakutan siswa biasa berpendapat. • Membuat suasana belajar yang menyenangkan. • Mendesain model pembelajaran yang memberikan semua orang untuk berpendapat. • Selalu memberikan motivasi kepada siswa dalam kegiatan belajar untuk selalu berani berpendapat. • Membuat capaian yang realistis untuk setiap kali pertemuan. • Membuat catatan khusus target yang akan dicapai. • Mencoba kolaborasi dengan guru teman sejawat. • Merencanakan pembelajaran yang mendorong tumbuh sikap berani tersebut. • Melakukan aktivitas diskusi dan Tanya jawab. • Selalu memberikan penghargaan kepada anak setiap mereka berani berpendapat mulai dari hal kecil seperti ajungan jempol dan sebagainya A-tur eksekusi (Deliver) 1. Siapa saja yang akan saya libatkan dalam mewujudkan rencana ini ? 2. Kapan rencana menumbuhkan sikap berani murid ini akan mulai dilakukan ? 3. Siapa yang bisa mengamati dan memantau proses rencana ini ? 4. Bagaimana pencatatan kemajuan sikap berani anak ? 5. Siapa yang akan menampung curhatan kesulitan-kesulitan saya melakukan penumbuhan sikap berani peserta didik tersebut ? 6. Kepada siapa saya akan laporkan kegiatan saya ini. 7. Bagaimana tindakan lanjutkan untuk semakin menumbuhkan sikap berani berpendapat ini agar menjadi suatu kebiasaan. 8. Bagaimana cara menjaga hal baik sudah ada secara kontinyu. • Mengajak rekan guru sejawat. • Dilakukan pada setiap pertemuan di kelas. • Sering melakukan komunikasi dengan siswa yang biasa di luar kelas untuk menumbuhkan sikap simpati dan empati. • Meminta kepada siswa lain untuk saling sufort agar sama-sama berkembang. • Menyiapkan wadah atau tempat menyampaikan pendapat secara bebas di sekolah seperti forum diskusi. • Bekerjasama dengan semua guru untuk melakukan hal yang sama. • Membiasakan budaya saling menghargai dan menghormati. • Kepala sekolah mengarahkan guru untuk memberi perhatian sama kepada siswa biasa. • Mengadakan lomba poster dengan tema berani berpendapat untuk semua siswa. • Meminta teman sejawat menjadi observer. • Kepala Sekolah dan guru-guru di sekolah sama-sama mencari solusi terbaik dalam suatu forum diskusi. • Tetap berusaha dan menjaga kebiasaan baik secara kontinyu.

Rabu, 24 November 2021

PETA KEKUATAN SDN SENDANGMULYO 02 MODUL 1.3.A.5.1

Komponen -komponen yang perlu ada dalam pemetaan : 1. Sekolah ( Sarpras ) Fungsi Menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung dalam pencapaian visi 2.Siswa / PD Fungsi Mengembangkan potensi dan mengikuti kegiatan yang ada disekolah 3. Guru Atau Rekan Sejawat Fungsi Menyusun dan melaksanakan kegiatan untuk pencapaian visi 4. Komite Sekolah Sebagai penghubung antara orangtua dan pihak sekolah 5. Kepala sekolah: Sebagai pengambil kebijakan 6. Pengawas Sekolah: Melakukan pembinaan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan 7. Tenaga Kependidikan : Memberikan layanan administrasi yang dibutuhkan dan dapat berkolaborasi dengan guru 8. Dinas pendidikan: Pembuat kebijakan

Selasa, 23 November 2021

1.3.a.4.2. Eksplorasi Konsep - Berbagi Tugas Kesimpulan tentang Inkuiri Apresiatif

Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman, bagi murid adalah termasuk impian saya dan impian semua pihak. Reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya membutuhkan waktu dan bersifat gradual atau bertahap. Guru Penggerak haruslah terus berlatih self manajemen sambil terus berusaha menggerakkan orang lain yang menjadi rekan untuk menjalani proses secara bersama-sama. Inkuiri Apresiatif (IA) dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep Inkuiri Apresiatif pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider. Inkuiri Apresiatif menggunakan prinsip utama yaitu psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan Inkuiri Apresiatif dapat dimulai dengan mengidentifikan hal baik yang sudah ada di sekolah, mencari cara agar hal yang baik dapat dipertahankan, sehingga kelemahan dan kekurangan serta ketidakadaan menjadi tidak relevan. Tahapan utama dalam pendekatan Inkuiri Apresiatif adalah BAGJA. Dalam bahasa Sunda, BAGJA artinya bahagia. BAGJA kepanjangadari Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabaran Rencana, Atur Eksekusi. Dengan keterangan sebagai berikut: 1. Buat Pertanyaan adalah menentukan arah penelusuran berdasarkan pertanyaan-pertanyaan. 2. Ambil Pelajaran adalah fokus satu pertanyaan utama yang disepakati, kemudian ambil pelajaran hal positif indvidu atau kelompok dari pertanyaan tersebut. 3. Gali Mimpi adalah menggali mimpi sebagai keadaan ideal yang diinginkan melalui sebuah narasi berdasar atas keadaan yang ada. 4. Jabaran Rencana adalah mengidentifikasi tindakan yang diperlukan dan mengambil keputusan-keputusan berdasarkan perencanaan awal dari pettanyaan yag tersusun agar lebih nyata. 5. Atur Eksekusi adalah membantu transformasi rencana menjadi nyata yang mampu memutuskan peran dalam pelaksanaan. Informasi yang dapat adalah pendekatan atau paradigma inkuiri apresiatif . Hal ini dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan . Dimana pendekatan ini meyakini bahwa setiap orang memiliki hal atau inti positif yang ada disekolah, mencari cara agar dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkannya untuk kemudian menyelaraskan dengan visi sekolah. Hal itu sangat mendukung peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran karena kita dituntut untuk melihat hal-hal positif pada murid atau anak kemudian kita sebagai guru sekaligus pendidik berkewajiban menembangkan bakatnya sesuai kodratnya

Minggu, 21 November 2021

VISI GURU PENGGERAK

Sejak kecil, kita sering ditanya, apa cita-citamu? Ada yang menjawab, mau jadi tentara, polisi, dokter, perawat, guru, pilot dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu, kadang cita-cita seseorang itu berubah. Sesuai dengan motivasinya. Berbicara tentang cita-cita sama halnya berbicara tentang impian, atau harapan. Harapan, cita-cita atau impian kadang terwujud atau tidak. Harapan, cita-cita, atau impian disebut dengan visi. Visi merupakan awal dari usaha untuk menggapai sesuatu yang kita impikan. Visi memberikan arah dan motivasi untuk meraih perubahan yang diimpikan atau dicita-citakan. Sebagai seorang guru, terlebih guru penggerak tentu memiliki visi. Visi dari guru penggerak adalah mewujudkan anak-anak Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila. Yaitu pelajar yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, mandiri, inovatif, berkebhinekaan global, mampu hidup bergotong royong, serta mampu bernalar kritis. Untuk mencapai visi tersebut, tentunya guru harus memiliki nilai yang melekat dalam dirinya. Nilai-nilai tersebut adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Di samping nilai-nilai tersebut, seorang guru penggerak juga harus memainkan perannya dalam dunia pendidikan yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, mampu menggerakkan kelompok-kelompok praktisi, mampu menjadi coach atau pelatih bagi guru-guru lain, mampu mendorong kerja sama antar guru, dan mendorong kepemimpinan yang berorientasi pada murid. Visi Guru Penggerak dengan menerapkan paradigma Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali potensi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi) diharapkan dapat mewujudkan merdeka belajar bagi murid dengan guru sebagai fasilitatornya. Visi Guru Penggerak yang coba kami usung adalah Guru MIKIR (Mandiri, Inovatif,Kreatif dan Reflektif). Guru yang MIKIR diharapkan dapat mencetak murid yang MANIS (Mandiri dan Eksis). Dengan guru MIKIR yang mewujudkan murid MANIS, berdasarkan paradigma IA dengan tahapan BAGJA, maka iklim belajar yang positif akan dapat dimunculkan. Iklim belajar positif dapat dimulai dari berpikir yang positif mulai dari hal yang paling kecil dan mulai dari diri sendiri, maka akan muncul perkataan – perkataan / ungkapan – ungkapan positif, sehingga bisa mewujudkan rasa yang positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Salam Guru Penggerak_Maju Bersama_Indonesia Maju

Selasa, 16 November 2021

TUGAS MODUL 1.2.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

Assalamualaikum Warrohmatullahi wabarokatuh TUGAS MODUL 1.2.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK 1. Apa yang anda pahami mengenai nilai dan peran guru penggerak? Guru penggerak harus memiliki nilai mandiri, inovatif, Kolaboratif, reflektif dan berpihak pada murid. Dalam hal ini guru penggerak juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kemandirian, mampu melakukan inovasi dalam pembelajaran, melakukan refleksi setelah pembelajaran dan melakukan pembelajaran yang berpusat pada anak. Guru penggerak harus mandiri dalam melaksanakan semua tugas dan bertanggung jawab terhadap tupoksi guru. Gur harus mampu melakukan kolaborasi dengan rekan-rekan guru lainnya atau teman sejawat dalam mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila. Guru penggerak merupakan guru-guru pilihan yang tergerak hatinya untuk ikut serta dalam memajukan pendidikan, dan kemudian mau tergerak, bergerak dan menggerak menggerakkan komunitas praktisi yang berimbas pada seluruh ekosistem satuan pendidikan. Selain itu, guru penggerak mampu menjadi teladan dan Agen Transformasi Pendidikan. Mereka layaknya lilin yang membawa perubahan di masing-masing unit pendidikan baik dalam komunitas sekolah maupn wilayah sekitarnya 2. Apakah ada keterkaitan antara nilai dan peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara? jelaskan! Nilai dan Peran Guru Penggerak ada keterkaikatan dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara. Dalam pemikiran filosofi KHD, hal yang paling penting dalam pendidikan adalah melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid atau guru menghamba pada murid. Makna atau arti menghamba adalah kita pendidik melaksanakan pembelajaran dan mendidik peserta didik karena merupakan panggilan jiwa. Sebagai pendidik harus mampu memahami kebutuhan anak, kemauan anak, bakat dan minat anak. Kita sebagai pendidik jangan sampai bersikap egois dan memaksakan kehendak pada anak apalagi sampai melakukan kekerasan baik fisik maupun psikis yang berakibat anak menjadi takut, kurang percaya diri dan cenderung bersikap introfert. Ki Hadjar Dewantara mengibaratkan pendidik sebagai petani yang bertugas untuk merawat tanaman, Sebagai petani tentu tidak lupa memupuk agar tanaman tumbuh subur. Kita sebagai pendidik juga harus ikut serta menggali dan menumbuhkembangkan kompetensi peserta didik.Guru Penggerak sebagai agen perubahan ekosistem pendidikan yang berpijak pada pemikiran Kihadjar Dewantara yang memiliki tiga kata kunci yaitu sebagai penuntun, teladan dan merdeka belajar. Menurut Kihadjar Dewantara bahwa guru diharapkan memiliki ketrampilan mengajar, memiliki keunggulan dalam kolaborasi baik dengan peserta didik, teman sejawat, orang tua siswa serta mampu bersikap profesional dalam menjalankan tugas. Hal ini tercermin dari nilai-nilai guru penggerak 3. Ingat kembali refleksi diri Anda pada bagian Refleksi Terbimbing serta ilustrasi yang sudah Anda buat pada Demonstrasi Kontekstual (sebagai gambaran Anda). Apa strategi yang bisa Anda lakukan untuk mencapai nilai tersebut? Untuk mencapai nilai mandiri, inovaif, reflektif kolaboratif dan berpihak pada murid maka diperlukan strategi yang saya lakukan untuk mencapai nilai tersebut adalah meluruskan niat, semangat belajar, berkolaborasi dan berdiskusi dengan guru lain, selalu melakukan inovasi, mengikuti bimtek dalam mengembangkan pembelajaran dalam rangka meningkatkan diri. 4.Siapa saja pihak yang dapat membantu Anda dalam mencapai gambaran diri Anda di demonstrasi kontekstual tersebut? Seperti apa perannya? Pihak yang dapat membantu saya dalam mencapai nilai dan peran guru penggerak yaitu keluarga, kepala sekolah, rekan sejawat dan peserta didik. Bagi saya keluarga mempunyai peran yang sangat penting, karena suami sangat mendukung saya dalam mengikuti calon guru penggerak, mendukung dan memfasilitasi kebutuhan secara moril dan materiil. Disekolah tentu sebagai orang yang dituakan adalah kepala sekolah yang memiliki peran yang sangat penting untuk mewujudkan nilai-nilai dan peran guru penggerak, tanpa adanya dukungan Kepala Sekolah nilai dan peran tidak dapat dilaksanakan. Rekan sejawat sangat dibutuhakan oleh guru penggrerak dalam rangka melakukan kolaborasi dan kerjasama dengan rekan sejawat untuk menghasilkan pembelajaran yang inovatif dan mewujudkan profil pelajar pancasila yang beriman dan bertawa keada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, gotong royong, kreatif dan bernalar kritis maka nilai dan peran guru penggerak akan maksimal. Selain itu peran murid sangat penting karena sebagai center atau pusatnya pendidiikan. Murid sebagai subyek pendidikan yang kita bangun untuk bernalar kritis kreatif mandiri gotong royong dan berakhlak mulia yang sesuai nilai-nilai profil pelajar pancasaila Wa’alaikum Salaam Warahmatullahi Wabarakaatuh

Senin, 15 November 2021

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-4

Pembelajaran pada minggu keempat masih pada Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak. Pembelajaran pada hari senin, 8 Nopember 2021 adalah Ruang Kolaborasi-Diskusi Pengerjaan. Saya bersama rekan-rekan CGP mendiskusikan peran dan nilai Guru Penggerak yang telah dilaksanakan dan strategi penguatannya. Pembelajaran berikutnya pada hari selasa, 9 Nopember adalah Refleksi Terbimbing. Pada pemelajaran ini, CGP diminta membuat refleksi dengan cara menengok ke belakang untuk melihat nilai-nilai dan peran yang sudah dilakukan, apa yang dirasakan saat ini, sekaligus menatap ke depan untuk memproyeksikan apa yang akan dilakukan, apa hambatan yang akan ditemui, dan cara mengatasinya. Pembelajaran dilanjutkan pada Demonstrasi Kontekstual selama dua hari, yaitu rabu dan kamis, 10 dan 11 Nopember 2021. Pada Demonstrasi Kontekstual, saya membuat poster gambaran diri ke depan, yaitu setelah mengikuti Pendidikan Guru Penggerak beserta alasan mengapa nilai-nilai tersebut penting untuk saya. Pembelajaran terakhir adalah jumat, 12 Nopember 2021 yaitu Ruang Kolaborasi-Presentasi Hasil Diskusi melalui Google Meet.

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 1.2.a.7

1.Guru pengerak seperti apakah saya? a.Saya akan menjadi Guru pengerak yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik yaitu dengan berlandaskan Profil Pelajar Pancasila, Guru Penggerak tidak terpaku dengan kurikulum yang ditentukan. Mereka juga melihat standar pencapaian Profil Pelajar Pancasila dan mencocokkan dengan metode pengajarannya b.Mengajar dengan kreatif dan inovasi Guru yang baik mampu menemukan metode yang tepat dalam penyampaian materi belajar,Melalui pembelajaran dengan metode yang bermacam-macam sehingga tidak menimbulkan kebosanan siswa. c. Menjadi Teladan dan Agen Transformasi Bagi Ekosistem Pendidikan Guru Penggerak diharapkan menjadi teladan dan agen perubahan di dalam ekosistem pendidikan. Mereka harus mempunyai dampak lain selain perubahan positif di kelasnya sendiri. Guru Penggerak harus memberikan dampak kepada guru-guru lain serta dampak kepada sekolahnya 2.Nilai-nilai apa yang saya kuasai di masa depan? Nilai yang harus saya kuasai yaitu: Nilai –nilai yang harus saya kuasai adalah nilai Mandiri, Reflekif, Kolaboraif,inovatif,berpihak pada murid. Mengapa nilai-nilai tersebut penting untuk saya Berbicara tentang nilai dan peran guru penggerak tidak lepas dari sebuah capaian harus mampu menerapkan prinsip prinsip pengembangan dalam menggerakan sebuah perubahan diantaranya mampu merumuskan nilai nilai diri yang selaras dengan upaya penumbuhan murid merdeka, harus mampu membuat perubahan diri yang akan mendukung penguatan nilai dan peran guru. Sehingga nilai-nilai ini tidak dapat dipisahkan dan mampu menerapkan kelima nilai tersebut untuk menguatkan peran guru pengerak sebagai agen trasformasi pendidikan.

Rabu, 10 November 2021

REFLEKSI TERBIMBING NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK 1. Apa saja nilai diri saya? (yang terdapat pada bagian mulai dari diri) Nilai diri yang saya miliki adalah : • Mandiri Sejak saya SD saya hidup mandiri karena bapak sebagai Kepala Sekolah dan Ibu sibuk berjualan di Toko, setiap hari membantu ibu. Apalagi ketika saya tinggal dipesantren membentuk pribadi yang mandiri . Dengan demikian mempengaruhi kehidupan saya sekarang sebgai guru penggerak yang mandiri, bertanggung jawab terhadap tugas dan mengembangkan diri mengikuti berbagai pelatihan baik berbasis IT maupun media pembelajaran • Reflektif Ketika saya mengemban amanah sebagai guru penggerak saya melakukan refleksi diri atau instropeksi diri agar ada perbaikan dalam melakukan pembelajaran terhadap murid, Menganalisis hasil belajar yang telah kami (guru dan siswa) lakukan dengan mengukur alat penilaian salah satunya dari segi empirik. Misal, kesukaran atau kendala dari pembelajaran yang telah dilakukan dengan memberi suatu pertanyaan. Melakukan penilaian dari teman sejawat untuk menilai kita mengenai tupoksi guru. Meweujudkan dengan melakukan refleksi selesai proses pembelajaran, sehingga mengetahui kekurang-kekurangan apa saja untuk menuju ke arah yang lebih baik. • Inovatif Yang telah kami lakukan mencari dan mencipta inovasi-inovasi belajar yang berpihak pada murid misalnya melalui komunitas praktisi kerja guru ( KKG, MGMP ), mencari inovasi dari internet, sosmed, buku atau referensi yang relevan dengan zaman. Nilai inovatif misalnya dengan membuat model pembelajaran yang lebih menarik misalnya pembelajaran berbasis game, penggunaan media ajar yang menarik, dan model pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa • Kolaboratif Kita sebagai guru penggerak harus melakukan kerjasama atau melakukan kolaborasi kepada teman sejawat baik dilingkungan sekolah maupun gugus atau kecamatan, sehingga mewujudkan hasil kolaborasi demi menghasilkan pembelajaran yang berpihak pada murid • Berpihak pada murid menciptakan suasana yang menyenangkan khususnya saat memberikan kebebasan cara belajar kepada siswa dalam pembiasaan literasi dan juga dalam memberikan kesempatan pada murid untuk membuat hasil karya mereka dengan cara berkreasi sesuai minat murid 2. Apa yang saya rasakan setelah mengetahui nilai dari Guru Penggerak? Jelaskan! Saya merasakan bahwa setelah mengetahui nilai guru penggerak adalah mandiri,inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid. Perasaan saya setelah mengetahui nilai –nilai guru penggerak adalah sangat inspiraif dan menyenangkan. Selain itu juga dengan saya aktif mengikuti berbagai pelatihan, bimtek dan diklat,seminar dan webinar baik secara daring / online maupun luring atau offline. Selalu aktif dalam mengikuti kegiatan praktisi pendidikan baik tingkat gugus, kecamatan maupun kota, sehingga dapat meningkatkan kompetensi yang nantinya bermanfaat bagi peserta didik maupun sekolah. 3. Apa saja nilai diri Guru Penggerak yang sudah saya miliki sekarang? Nilai diri Guru Penggerak yang sudah saya miliki sekarang adalah Mandiri, Reflektif,Kolaboratif,inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid 4. Diantara nilai-nilai yang sudah saya pelajari, nilai apa yang saya rasa perlu saya kuatkan? jelaskan! Nilai yang perlu saya kuatkan adalah kolaborasi. Dengan melakukan kolaborasi atau kerjasama saling memberikan ide kreatif atau gagasan maka akan mencapai hasil yang jauh lebih baik dibandingkan kita melakukan suatu tugas dengan ide yang kita miliki. Dengan demikian akan menciptakan model pembelajaran yang aktif, kreatif,inovatif yang berpusat pada murid 5. Apa yang saya rasakan setelah mengetahui peran dari seorang Guru Penggerak? Yang saya ketahui setelah mengetahui peran seoang guru penggerak adalah saya sangat tertarik dan tertantang untuk ikut serta berperan sebagai guru penggerak, yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, Menggerakan komunitas praktisi (KKG, MGMP), Menjadi coach / mentor bagi guru lain, Mendorong kolaborasi antar guru, Mewujudkan ekosistem pembelajaran dengan cara Mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Contohnya : Sekolah ramah anak 6. Apa yang bisa saya lakukan (khusus untuk diri saya) untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak? Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk diri saya sendiri adalah untuk menguatkan peran dan nilai guru penggerak adalah Menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid, dengan model pembelajaran yang aktif,kreatif,inovatiif, proaktif dan menyenangkan. saya aktif mengikuti berbagai pelatihan, bimtek dan diklat,seminar dan webinar baik secara daring / online maupun luring atau offline. Selalu aktif dalam mengikuti kegiatan praktisi pendidikan baik tingkat gugus, kecamatan maupun kota, sehingga dapat meningkatkan kompetensi yang nantinya bermanfaat bagi peserta didik maupun sekolah.Adanya dukungan Keluarga, Orang tua siswa, Kepala sekolah serta beberapa rekan kerja dalam mengikui program guru penggerak sehingga semakin termotivasi untuk membawa perubahan disekolah yang akan berdampak positif bagi sekolah dan peserta didik. 7. Apa yang akan menghambat saya dalam memperkuat peran dan nilai Guru Penggerak dalam diri saya? Faktor penghambat saya dalam memperkuat peran dan nilai guru penggerak adalah kurang mendapat dukungan dari sebagian kecil dari rekan kera, bahwa mereka beranggapan bahwa peran dan nilai guru penggerak membuat mereka terbebani karena adanya banyaknya peran dan nilai yang harus dilakukan. Selain itu singkatnya waktu pembelajaran sehingga harapan yang dihasilkan masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan waktu belajar.Dengan demikian maka kita sebagai guru penggerak melakukan kolaborasi dengan orang tua siswa dengan pembelajaran berkelanjutan dirumah. Kita sebagai guru melakukan monitoring atau pengawasan terhadap program tersebut sehingga peran dan nilai guru penggerak benar-benar dapat dilaksanakan sebagai agen perubahan pendidikan, yang maju berorientasi pada murid, berprestasi dan membentuk pelajar pancasila.

Jumat, 05 November 2021

PELATIHAN PENULISAN KISI-KISI ANBK JENJANG SEKOLAH DASAR KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG kita sebagai pendidik harus meningkatkan kompetensi dalam pembelajaran diantaranya pembuatan kisi-kisi soal ANBK. karena tidak semua pendidik mampu membuat sesuai standar Sebelum memahami lebih jauh mari kita pahami dari penjelasan singkat tentang apa itu Grid of the Question Grid, berikut penjelasannya; 1. Arti kisi Lattice merupakan format berbentuk matriks yang berisi informasi yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam penulisan atau penyusunan soal. Kisi-kisi soal disusun berdasarkan tujuan penggunaan pengujian. Penyusunan kisi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum menulis soal. Jika beberapa pertanyaan penulis menggunakan satu grid, akan menghasilkan pertanyaan yang relatif sama (paralel) dari tingkat kedalaman dan cakupan materi yang bersangkutan. 2. Kondisi grid Kisi tes prestasi akademik harus memenuhi persyaratan berikut: Merupakan isi kurikulum yang akan diuji. Komponennya rinci, jelas, dan mudah dimengerti. Indikator soal harus jelas dan soal bisa dibuat sesuai dengan bentuk soal yang telah ditetapkan. 3. Komponen kisi Komponen yang dibutuhkan dalam suatu kisi disesuaikan dengan tujuan pengujian. Komponen kisi terdiri dari komponen identitas dan komponen matriks. Komponen identitas ditempatkan di atas komponen matriks. Komponen identitas meliputi jenis / jenjang sekolah, program studi / jurusan, mata pelajaran, tahun studi, kurikulum yang dirujuk, alokasi waktu, jumlah soal, dan formulir soal. Komponen matriks berisi kompetensi dasar yang diambil dari kurikulum, kelas dan semester, materi, indikator, level kognitif, dan nomor soal.
1. Peran saya disekolah adalah sebagai wali kelas, pembimbing lomba FLS2N ( lomba puisi), Lomba mapsi ( geguritan atau macapat islami ),BTQ, Rebana. Sebagai instruktur eskstrakurikuler Rebana, BTQ. Pendamping Ekstrakurikuler seni lukis dan seni tari. Pendamping lomba Mapsi,FLS2N, Lomba siswa berprestasi dan lomba anak Indonesia. sebagai pengawas ujian Nasional , Sebagai instruktur TIK seperti Google Forms, Quizziz, Kahoot,Website, MS Sway Kepada bapak ibu guru tingkat kecamatan, berperan dalam pembuatan video pembelajaran Dinas Pendidikan Kota Semarang. Disekolah saya juga berperan dalam memimpin Apel pagi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah dilanjutkan memimpin doa bersama dan asmaul husna . Melakukan pembelajaran yang berpusat pada murid literasi ( baca buku pada pojok baca ) dan mengaktifkan murid untuk selalu berpendapat dan maju kedepan kelas. 2. Peran yang jarang saya lakukan adalah mengevaluasi kembali terhadap hasil bimbingan lomba karena terkadang menang / juara dan terkadang kalah. 3. Pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika anak yang dibimbing lomba berprestasi yang dapat mengharumkan nama sekolah serta ketika berhasil membina siswa berkarakter sesuai dengan PPK ( Mandiri,Gotong royong,religius, integrias, dan Nasionalis )

Selasa, 02 November 2021

Refleksi Diri Pemikiran Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu konsep pendidikan Indonesia yang berorientasi kepada murid dengan keunikan masing-masing dan mengedepankan nilai-nilai Pancasila
REFLEKSI TERBIMBING PRESENTASI KERANGKA FILOSOFIS MERDEKA BELAJAR KI HADJAR DEWANTARA 1. Apa pengetahuan dan pengalaman baru yang saya dapat setelah mempelajari secara mendalam pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara? Jawaban a. Guru selalu aktif dimana sangat berperan dalam belajar b. Mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif c. Pola pikir merdeka aktif, guru merubah mindset pola paradigma d. Kemerdekaan belajar dalam berinovasi dan berkreasi untuk mencapai tujuan pribadi yang memilki nilai-nilai hidup yang mengubah individu untuk mencapai kesuksesan 2. apa kekuatan saya dalam menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru ini? a. Guru sebagai pengelola yang memberikan peran dalam menciptakan suasana belajar terutama esensi merdeka belajar, dimana dapat menggali potensi dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri b. Rasa percaya diri. Dengan rasa diri, kita akan lebih menerima dan mengambil kesempatan yang ada, serta terus belajar mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik c. Optimis dan semangat . Dengan optimis dan semangat saya akan meningkatkan kompetensi yang saya miliki dengan revolusi industri 4.0 dan pendidikan abad 21 d. Dapat bekerja sama dalam tim , sehingga dapat mewujudkan gotong royong e. Berfikir kreatif dalam belajar dan mengajar f. Siap menerima saran, kritik dan masukan yang membangun 3. apa hal-hal yang perlu saya ubah dari diri saya agar dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru ini? a. Saya harus melakukan praktik baik sehari-hari agar profil pelajar pancasila dapat tercapai b. Saya harus mengimplementasikan atau menerapkan apa yang saya dapatkan dari pengalaman belajar yang berharga ini kepada anak didik saya serta teman sejawat dalam dunia pendidik c. Memberikan rasa aman dan nyaman dalam pembelajaran d. Menerapkan merdeka belajar mandiri e. Berkreasi, berinovasi dalam belajar mandiri f. Memahami karakerisitik anak sesuai kodrat alam dan kodrat zaman 4. apa perubahan konkret yang akan saya lakukan setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara? a. Mengubah cara mengajar dari menuntut menjadi menuntun peserta didiik b. Memahami karakteristik peserta didik agar lebih mudah menuntun peserta didik sesuai kodrat alam dan kodrat zaman c. Menggali potensi lingkungan dalam proses belajar mengajar dalam mewujudkan profil pelajar pancasila d. Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk belajar sebagai perwujudan dan merdeka belajar
JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 2 CGP ANGKATAN 4 KOTA SEMARANG OLEH SRI WAHYUNINGSIH,S.Pd Webinar Nasional bersama Ki Priyo salah satu Pengajar Taman Siswa dilakkan Webinar secara Nasional dengan bapak ibu CGP angkatan 4 bersama PP dan Fasiliaor, Meeting tersebut dilakukan untuk memperkuat pemahaman terkait pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan. Virtual meeting berjalan dengan lancar dengan proses pemaparan terlebih dahulu (mengkilas balik materi pemikiran Ki Hajar Dewantara terkait pendidikan) yang dilakukan oleh fasillitator. Peserta mendengarkan pemamaran dan sesekali fasilitator menanyakan kepada peserta. Dan peserta langsung menjawab pertanyaan fasilitator terkait pemikiran Ki Hajar Dewantara. Adapun secara lengkap Diskusi ruang virtual akan dipandu oleh Fasilitator dengan tahapan sebagai berikut: Presentasi Materi (25') Pemateri oleh Ibu Kartika, M.Pd mempresentasikan materi Pemikiran Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) selama 25 menit untuk memberikan penguatan pemahaman peserta terhadap pemikiran-pemikiran KHD. Diskusi (20' Pemateri memberi penguatan terhadap pertanyaan-pertanyaan CG Berbagi dan Tanya Jawab (25' CGP berbagi pengalaman praktik baik proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran filosofis Pendidikan KHD,CGP bertanya dan berdiskusi kepada Fasilitator terkait pembelajaran yang diperoleh dalam ruang diskusi. Refleksi dan Umpan Balik (15') Narasumber memberi umpan balik penguatan terhadap pemahaman CGP Refleksi pembelajaran dituliskan pada aplikasi yang disediakan oleh Fasilitator (mentimeter/padlet/jamboard) Penutup (05') Moderator menutup kegiatan pembelajaran Eksplorasi Konsep Refleksi Kritis Pemikiran KHD Adapun model Jurnal refleksi Minggu ke2 dengan model DEAL dalam bentuk Infografis adalah sebagai berikut
Demonstrasi Kontekstual Pemikiran Filosofis Ki Hadjar Dewantara dalam karya Tugas Modul 1.1.a.7 Banyak hal yang harus yang harus saya pelajari tentang filosofis pemikiran kihajar dewantara, antara lain 1. Pengajaran Memberikan ilmu yang berfaedah untuk kecakapan hidup orang lain 2. Pendidikan memberikan tuntunan segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mampu mencapai keselamatan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat 3. Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan 4. Budi pekerti bersatunya antara gerak pikiran dan perasaan dan kehendak sehingga menimbulkan tenaga dan semangat Sebagaimana Puisi dibawah ini... Budi Pekerti Pendidikan budi pekerti Agar menjadi manusia luhur Pendidikan ilmu pengetahuan Agar negeri berkemajuan Kami teruskan cita-citamu Mensejahterakan Nusantara Dipenuhi dengan cahaya Cahya ilmu di dalam dada. Dalam pemikiran KHD Mencapai keseimbangan hidup adanya keselarasan antara olah cipta, olah karsa dan olah karya
DESAIN KERANGKA PEMBELAJARAN SESUAI DENGAN PEMIKIRAN Ki hadjar dewantara Profil pilihan kelompok h1
Refleksi Jurnal Minggu 1 CGP Angkatan 4 Oleh Sri Wahyuningsih, S.Pd Menggunakan prinsip atau model 3 Six Thinking Hat, teknik 6 topi 1. Process atau proses yaitu menuliskan informasi sebanyak-banyaknya terkait pengalaman yang terjadi : a. Masuk modul 1.1 refleksi Pendidikan Kihajar Dewantarab. Pendahuluan 1.1 a.2 surat dari instruktur untuk menonton video 1.1 refleksi filosofi pendidikan KHD c. Melakukan refleksi diri tentang pemikiran Kihajar Dewantara d. Eksplorasi konsep tentang refleksi diri tentang pemikiran KHD e. Forum diskusi refleksi tentang pemikiran KHD secara virtual f. Ruang kolaborasi dengan mendesain kerangka pembelajaran KHD bersama Fasilitator 2. Creativity ( Ide-ide) yaitu saya akan menerapkan terkait pemikiran Kihajar Dewantara dilingkungan keluarga,sekolah/kelas dan masyarakat 3. Facts ( Informasi data) Dalam melakukan pembelajaran dikelas dan disekolah dengan menerapkan pemikiran Kihajar Dewantara yaitu merdeka belajar sehingga tumbuh profil pelajar pancasila terutama dalam mencerminkan budi pekerti atau karakter / akhlak yang untuk diriya dan masyarakat 4. Feelings( Perasaan ) Perasaan saya saat mempelajari materi dan menerapkan kepada peserta didik, saya sangat senang dan bersyukur karena banyak ilmu baru dan pengalaman baru yang sangat bermanfaat . Materi yang disajikan dalam modul 1.1 Filosofi pemikiran Kihajar Dewantara 5. Benefits ( Manfaat ) Manfaat yang didapatkan dari modul 1.1 ini adalah : a. mendapatkan ilmu baru terkait pemikiran KHD b. mendapatkan pengalaman baru terkait pengalaman sebagai guru penggerak c. Dapat membedakan pendidikan zaman kolonial denganmasa taman siswa dan masa abad 21 saat ini 6. Cautions ( Hambatan ) Signal yang kadang kurang bersahabat, dan waktu zoom bersamaan jam kegiatan yang lainnya
Potret pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga kini 1. Bagian paling menarik yaitu pada momen pendirian Taman Siswa pada tahun 1920 karena cita-cita baru lahir untuk perubahan radikal dalam pendidikan dan pengajaran dan sebagai titik awal perjalanan pendidikan di Indonesia, tanpa adanya momen itu mungkin pendidikan di Indonesia belum berjalan sesuai yang kita harapkan 2. pendidikan jaman kolonial belanda hanya diperuntukkan bagi calon pegawai dan mementingkan golongan tertentu dan itu ditujukan juga nantinya untuk mendukung usaha dagang dan kepentingan mereka 3. Persamaan dan perbedaan antara situasi pendidikan jaman Kolonial dengan pendidikan bangsa Indonesia saat ini. Persamannya adalah adanya pembelajaran membaca, menulis dan berhitung serta dalam lingkungan sekolah terdapat siswa dan murid yang terlibat dalam proses pendidikan sedangkan perbedaannya adalah terletak pada tujuan dan sasaran siswa, jika jaman kolonial serta bertujuan untuk kepentingan kaum tertentu sedangkan jaman bangsa Indonesia sekarang ini tujuannya adalah mencerdaskan generasi bangsa Indonesia serta pembelajaran dulu berpusat pada guru sedangkan sekarang berpusat pada siswa.

Selasa, 29 Juni 2021

TEMA 1 INDAHNYA KEBERSAMAAN SUBTEMA 1 KERAGAMAN BUDAYA BANGSAKU PEMBELAJARAN 1

MUATAN PELAJARAN BAHASA INDONESIA PARAGRAF Setiap bacaan biasanya terdiri atas beberapa paragraf. Setiap paragraf memilki gagasan pokok yang didukung oleh gagasan pendukung. Gagasan pokok adalah ide utama yang dibahas dalam suatu bacaan, dapat berupa kalimat inti atau berupa pokok paragraf. Gagasan pendukung adalah uraian atau tambahan informasi untuk gagasan pokok. Gagasan pokok adalah ide utama yang dibahas dalam suatu bacaan, dapat berupa kalimat inti atau pokok paragraph. Gagasan pokok dapat dilihat pada kalimat utama. Kalimat utama biasanya terletak pada bagian awal atau bagian akhir. Kalimat utama yang terletak pada bagian akhir paragraf biasanya diikuti dengan kata-kata, seperti oleh karena itu, oleh sebab itu, jadi, dan dengan demikian. Contoh Rumah tempat tinggalku sangat menyenangkan. aku beserta kakan dan adik-adikku merasa tenteram bila berada di rumah. Kami bisa berdiskusi, bercengkerama, dan kadang-kadang bersendau gurau tentang berbagai hal. Teman-temanku juga merasa betah bila belajar bersama di rumahkau. Tempatnya sangat nyaman, jauh dari kebisingan suara mobil dan tetangganya ramah-ramah. Gagasan pokoknya adalah : Rumah tempat tinggalku sangat menyenangkan.
Ciri-ciri kalimat utama : Bersifat lebih umum dari kalimat lainnya; Biasanya terletak di awal atau di akhir paragraf; Dapat berdiri sendiri jika kalimat lain dihilangkan. Gagasan pendukung disebut juga gagasan penjelas yang fungsinya menjelaskan gagasan pokok. Gagasan pendukung/penjelas umumnya dinyatakan oleh lebih dari satu kalimat. Kalimat yang mengandung gagasan penjelas disebut kalimat penjelas. Contoh : Andi merupakan anak yang sangat rajin belajar. Di sekolah ia banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan. Usai sekolah pun, waktu ia habiskan untuk mengikuti berbagai macam les daripada nongkrong bersama teman-temannya. Bahkan di hari liburpun ia lebih terlihat sering terihat membaca buku di pinggir sungai. Gagasan pendukungnya adalah : Andi sering ke perpustakaan

Sabtu, 26 Juni 2021

Pembelajaran Tematik SD Kelas 4

Tema 1 Membangun Indahnya Kebersamaan Sub Tema 1 Keragaman Budaya Bangsaku Pembelajaran 1 Indonesia terdiri atas berbagai macam suku bangsa dan budaya, namun tetap dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keberagaman tersebut merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita wajib mensyukurinya. Berikut adalah bacaan tentang keberagaman budaya Indonesia. Bacalah teks berikut dalam hati! Pawai Budaya Pawai Budaya sangat menarik bagi warga Kampung Babakan. Pawai ini selalu menampilkan keragaman budaya Indonesia. Udin dan teman-teman tidak pernah bosan menanti rombongan pawai lewat. Tahun ini mereka datang ke alun-alun untuk melihat pawai tersebut. Kakek Udin pun terlihat sabar menanti. Terdengar suara gendang yang menandakan rombongan pawai semakin dekat.
Di barisan pawai terdepan terlihat rombongan dari Maluku. Rombongan laki-laki mengenakan kemeja putih, jas merah, dan topi tinggi dengan hiasan keemasan. Rombongan perempuan mengenakan baju Cele. Baju ini terdiri dari atasan putih berlengan panjang serta rok lebar merah. Langkah mereka diiringi oleh suara Tifa, alat musik dari Maluku. Bunyinya seperti gendang, namun bentuknya lebih ramping dan panjang. Budaya Maluku sangat unik dan menarik. Budaya Bali terkenal karena bunyi musiknya yang berbeda. Rombongan dari Bali membunyikan alat musik daerahnya, Ceng-Ceng namanya. Alat ini berbentuk seperti dua keping simbal yang terbuat dari logam. Nyaring bunyinya ketika kedua keping ini dipadukan. Rombongan dari Bali diikuti oleh rombongan dari Toraja. Wanita Toraja memakai pakaian adat yang disebut baju Pokko. Rombongan laki-laki menggunakan pakaian adat yang disebut Seppa Tallung Buku. Rombongan Toraja membunyikan alat musik khas mereka, Pa’pompang namanya. Alat musik ini berupa suling bambu besar yang bentuknya seperti angklung. Unik bentuknya, unik pula bunyinya. Budaya Toraja sangat menarik untuk dipelajari. Udin dan temanteman senang melihat pawai budaya. Selalu ada hal baru yang mereka perhatikan setiap tahun. Pakaian adat dari berbagai suku di Indonesia selalu menyenangkan untuk diamati. Benar kata Ibu Udin, kebudayaan Indonesia memang sangat beragam. Kaya dan mengagumkan.

  Pembelajaran Berdiferensiasi Produk Pada Mapel Seni Rupa Kelas 4 B SDN Sendangmulyo 02 Korsatpen Tembalang Kota Semarang   A.     PENG...