Jumat, 22 April 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 TENTANG PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBEAJARAN

                                                             




                                                        Oleh Sri Wahyuningsih

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

 

 1. Pengaruh Filosofi Patrap Triloka Ki Hajar Dewantara terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran

Ki Hajar Dewantara mempunyai pemikiran  terkait dengan pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengemukakan salah peran mulia guru adalah  sebagai penuntun. Guru berperan menuntun segala kekuatan kodrat zaman dan kodrat alam yang ada pada diri anak sebagai manusia individu atau bagian dari masyarakat untuk mencapai kebahagian hakiki atau setinggi-tingginya untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan

Jika di sesuaikan dengan konsep guru penggerak penuntun ini bermakna pemimpin pembelajaran. Pemimpin yang mampu mengelola pembelajaran yang berpihak kepada murid yang menciptakan murid sebagai subjek dan center dari ilmu pengetahuan. Guru hanya mengarahkan bagaimana murid berkembang sesuai karakter, keunikkan dan potensi yang dimilikinya masing-masing murid

Proses pengarahan dan menuntun yang dilakukan guru sangat berkaitan  dengan  salah satu filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu filosofi Patrap Triloka. Tiga prinsip yang mendasari seorang guru untuk melakukan sebuah proses menuntun yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. 

Ing Ngarsa Sung Tuladha  yang memiliki makna filosofi dengan memantapkan kita, untuk mampu menjadi teladan atau contoh yang  positif kepada anak didik ketika kita berada di depan mereka, filosofi Ing Madya Mangun Karsa memiliki makna menyemangati kita ketika berada di tengah-tengah mereka untuk menjadi motivator yang mampu membangkitkan kemauan dan membangun keanekaragaman potensi anak atau peserta didik untuk berkembang dan maju menjadi pusat pembelajaran, filosofi patrap triloka yang ketiga yaitu Tut Wuri Handayani yang memiliki makna  penting ketika posisi guru berada di belakang maka pendidik mampu mengarahkan, menyemangati dan mendorong anak didik untuk mau belajar serta meningkatkan potensinya. Tiga prinsip kepemimpinan yang banyak diterapkan dalam proses pembelajaran.  

Patrap triloka ini memberikan pengaruh besar kepada kita sebagai pendidik mampu memposisikan diri baik di depan, di tengah atau di belakang untuk kemajuan peserta didik dan menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid.Filosofi patrap triloka mendorong guru untuk tidak lagi menjadi sumber ilmu pengetahuan dan subjek pembelajaran satu-satunya akan tetapi ada potensi peserta didik yang harus difasilitasi juga untuk menjadi sumber ilmu pengetahuan dan subjek pembelajaran. Dengan Filosofi pratap triloka mendorong guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. Pengambilan keputusan yang mampu memerdekakan murid seutuhnya dan menciptakan pembelajaran yang berpusat dan berpihak pada murid. Pengambilan keputusan yang secara sadar dan tidak terpengaruh oleh pihak manapun, sehingga akan menciptakan suasana pembelajaran yang membuat murid nyaman untuk berkomunikasi dengan guru sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang mengedapankan kepentingan murid. 

2. Pengaruh nilai-nilai yang tertanam dalam diri terhadap pengambilan suatu keputusan

Setiap guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. 

Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh  ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilemma etika (benar versus benar) atau berada  pada   bujukan moral yaitu dalam dua pilihan antara benar versus salah  yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar. 

Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh yang harus kita laksanakan. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan kebijakan universal dan keberpihakan pada peserta didik dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasikan kompetensi sosial emosional yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berinteraksi sosial dalam mengambil keputusan dengan kesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang bakal terjadi.

3. Kegiatan terbimbing yang dilakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil dan pengambilan keputusan yang efektif.

Coaching menjadi salah satu proses yang dilakukan guru untuk membuat keputusan yang tepat dan efektif dalam menggali potensi peserta didik. Coaching  membantu guru menjalankan proses menuntun murid mendapatkan kemerdekaan belajar dan meningkatkan potensi yang dimilikinya. Eksplorasi potensi murid terlaksana dengan melalui dalam proses coaching.Choaching akan dilakukan dengan model TIRTA, yaitu dengan mengacu pada tujuan, identifikasi masalah, rencana aksi serta tanggung jawab. Chooching yang saya lakukan dengan rekan sejawat atau guru yang memiliki masalah terkait masalah pembelajaran disekolah

 

Pengambilan keputusan yang tepat dengan resiko yang sekecil-kecilnya terlaksana dengan coaching. Pertanyaan-pertanyaan reflektif muncul dalam proses coaching. Pertanyaan tersebut menstimulus kerja otak peserta didik untuk bekerja secara maksimal dan melakukan metakognisi untuk menentukan sebuah keputusan yang diambil dari hasil penggalian potensi mereka. Keputusan sendiri yang tepat dan benar sebagai solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Ada peran guru sebagai coach untuk untuk membangkitkan dan memunculkan semaksimal mungkin potensi peserta didik untuk mampu menyelesaikan masalah sendiri apalagi masalah yang termasuk dilemma etika dan bujukan moral. Pendidik sudah sepatutnya menyisihkan waktunya untuk menjalankan proses coaching untuk menciptakan kondisi pendidikan yang berpihak pada murid dan mengutamakan kepentingan peserta didik. Kondisi yang menstimulus murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing.

4. Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan peserta didik dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilemma etika ataukah bujukan moral. 

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang focus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. 

Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.

Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

5. Dampak pengambilan keputusan yang tepat terhadap terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman 

Llingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman salah satunya terciptanya dari pengambilan keputusan yang tepat. Proses yang bisa dilakukan untuk mendapatkan keputusan yang tepat adalah dengan berpedoman pada 4 paradigma ( Kesetiaan Vs Loyalitas, Keadilan Vs Rasa Kasihan, Individu Vs Masyarakat dan Jangka Pendek Vs Jangka Panjang ) , 3 prinsip pengambilan keputusan ( End based thingking, Role based thingking dan care based thingking ) dan  dengan melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Sembilan ( 9 ) langkah pengambilan dan pengujian keputusan tersebut memberikan keyakinan kepada kita bahwa keputusan yang kita ambil mampu mengakomodir seluruh kepentingan dan harapan berbagai pihak yang dilibatkan dalam kasus atau permasalahan yang dihadapi, sehingga dengan keputusan yang tepat tersebut dapat menciptakan lingkungan yang kondusif, positif, nyaman dan aman.

 

6. Kesulitan-kesulitan sulit yang dihadapi dalam melaksanakan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika serta masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah

Sebagai makhluk sosial yang selalu melakukan interaksi dan komunikasi  dengan lingkungan yang ada di sekitar kita. Kita pasti pernah dan bahkan sering dihadapkan dengan situasi yang menuntut diri kita dalam mengambil suatu keputusan yang tepat. Situasi yang bisa termasuk dilemma etika atau bujukan moral. Dalam mengambil keputusan yang tepat kita sering dihadapkan dengan berbagai kesulitan di antara:

a. Keterbatasan pengetahuan dan pengalaman menjadi salah satu kendala pribadi yang sering muncul.Terkadang pengalaman  sebelumnya akan mempengaruhi pengambilan keputusan di masa selanjutnya.

b. Kehawatiran akan keputusan yang tidak tepat menjadi kesulitan tersendiri dalam pengambilan keputusan serta rasa kasihan terhadap seseorang yang kadang membua kita dilema dalam mengambil keputusan.

c. Dalam pengambilan keputusan harus  mengindentifikasi fakta dan informasi awal yang akan mengasilkan  ketepatan keputusan yang diambil.

d. Perbedaan sudut pandang setiap orang dalam mengambil keputusan suatu kasus yang sama menyebabkan sulitnya mendapatkan kesepakatan keputusan.

Keempat kesulitan yang dipaparkan di atas akan memberikan pengaruh terhadap perubahan paradigma yang berkembang dan dipegang oleh pihak yang ada di lingkungan institusi tempat saya berkerja.

 

7. Pengaruh pengambilan keputusan terhadap pengajaran yang memerdekakan murid-murid

 

Program guru penggerak salah satu edisi yang bertujuan untuk memerdekakan anak didik kita. Ada banyak proses yang dilakukan dalam rangka memerdekakan anak didik. Salah satunya adalah :

a. Dengan keputusan yang tepat ketika kita dihadapkan dengan situasi atau kasus yang membutuhkan penyelesaian yang berpihak pada murid dan mengangkat kepentingan peserta didik.

b. Keputusan yang diambil kita sebagai bentuk proses menuntun peserta didik didik untuk merdeka, berkembang dan hidup sesuai kodrat alam dan zamannya.

c.  Kita bisa melakukan proses coaching kepada kita ketika mereka dihadapkan dengan kondisi yang berhubungan dengan dilemma etika dan bujukan moral.

d. Menemukan potensi yang mereka miliki untuk menyelesaikan segala masalah dilemma etika dan bujukan moral untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sehingga keputusan yang diambil tanpa paksaan dan interpretasi dari pihak mana pun. Dalam mengambil keputusan melalui proses yang memerdekakan mereka. 

 

8. Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya

 

Masa depan anak didik akan tercipta dari tangan pendidik yang peduli, kreatif dan inovatif. Maju dan mundurnya suatu generasi Bangsa akan bergantung pada pendidik yang selalu memusatkan pikiran, enegi dan langkahnya untuk kemajuan peserta didik. Peserta didik itu memiliki karakter yang unik dan berbeda-beda. Peserta didik membawa keanekaragaman potensi yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang ada pada peserta didik memunculkan permasalahan yang berbeda-beda pula. Dari sinilah peran Pendidik harus belajar mampu menuntun anak untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada mereka salah satunya dengan proses coaching, menetukan suatu keputusan jitu untuk meningkatkan potensi mereka untuk berkembang dan hidup sesuai dengan kodratnya masing-masing. 

 

Keputusan yang diambil pendidik sebagai pemimpin pembelajaran dalam menyelesaikan permasalahan peserta didik akan menentukan langkah hidup mereka selanjutnya jika tepat akan lebih menjadikan mereka menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, matang dan dewasa. Jika kurang tepat atau tidak tepat pendidik sebagai pemimpin pembelajaran mampu meminimalisir kemungkinan resiko dari ketidaktepatan keputusan tersebut, sehingga anak didik pun akan tetap tumbuh sebagai insan yang rasional, cermat dan teliti dalam mengambil keputusan ketika dihadapkan dengan persoalan yang  mereka hadapi

 

9. Simpulan pembelajaran modul 3.1 dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya

Pengambilan keputusan ialah proses untuk memilih suatu keputusan dari berbagai pilihan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.  Pengambilan keputusan ini memunculkan sikap hati-hati dalam  bertindak dalam mengambil satu keputusan dari berbagai kemungkinan. 

Proses yang dilakukan pendidik sebagai pemimpin pembelajaran untuk memantapkan keputusan tepat yang diambil sebagai buah dari nilai-nilai positif yang dipegang dan dijalannya. Nilai yang pegang teguh soyogyanya sejalan dengan nilai yang menjadikan peserta didik lebih siap hidup sebagai pribadi yang tangguh. Nilai-nilai tersebut seperti kreatif, inovatif, mandiri, mampu berkolaborasi dan senantiasa menciptakan suatu kondisi yang berpihak terhadap murid. Pemimpin pembelajaran pun haruslah mampu membangun hubungan sinergis yang menciptakan kondisi yang menjadikan nyaman untuk berkolaborasi dan bermitra dengan berbagai pihak terutama dengan peserta didik. Kolaborasi dan kemitraan yang tebangun setidaknya akan mendorong untuk mendapatkan suatu keputusan yang dapat memawakili harapan dan keinginan setiap pihak yang berada dalam lingkungan pendidikan.Pengambilan Keputusan salah satu langkah yang diambil pendidik sebagai pemimpin pembelajaran untuk memerdekakan anak untuk hidup sesuai potensi yang dimilikinya masing-masing tanpa merasa terbebani Hidup bahagia sesuai kodratnya baik sebagai insan pribadi maupun bagian dari masyarakat. Hal ini sesuai dengan filososi pemikiran Ki Hajar Dewantara. 

Kemerdekaan belajar yang diperoleh peserta didik tercipta jika setiap pendidik mampu menciptakan pembelajaran yang selalu memperhatikan dan mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta didik. Baik dari minat, profil dan kesiapan belajar mereka. Selain itu social emosonal pun ditumbuhkan sebagai upaya untuk menjadikan kondisi berkesadaran penuh dan focus dalam mengambil sebuah keputusan tepat yang dapat mengakomodir aspirasi peserta didik.  Usaha-usaha pendidik tersebut sebagai langkah untuk melejitkan potensi yang dimiliki peserta didik. Pendekatan Coaching menjadi salah satu usaha yang dilakukan guru. 

Coaching ini membantu peserta didik memecahkan masalah sendiri dengan berbagai potensi yang mereka miliki sendiri. Pendidik hanya menuntun dan mengarahkan mereka dengan pertanyaan-pertanyan efektif untuk mampu mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi peserta didik. Coaching ini pun dapat digunakan kepada teman sejawat, kepada seluruh warga sekolah sebagai upaya untuk menyelesaikan kondisi kurang ideal yang terjadi. Coaching ini adalah salah satu upaya menciptakan dan membiasakan budaya positif sekolah dan memaksimalkan komunitas praktisi yang ada di lingkungan sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 08 April 2022

JURNAL REFLEKSI MODUL 1.3 TENTANG VISI GURU PENGGERAK

                                                                 

VISI GURU PENGGERAK

Oleh : Sri Wahyuningsih

CGP Angkatann 4 Kota Semarang

Sejak kecil kita sering ditanya, apa cita-citamu? Ada yang menjawab, mau jadi tentara, polisi,dokter,perawat,guru,pilot dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu,kadang cita-cita seseorang itu berubah, sesuai dengan motivasinya. Berbicara tentang cita-cita sama halnya berbicara tentang impian atau harapan. Harapan dan cita-cita atau impian kadang terwujud atau tidak. Harapan, cita-cita atau impian disebut dengan visi. Visi merupakan awal dari usaha menggapai sesuatu yang kita impikan. Visi memberikan arah dan motivasi untuk meraih perubahan yang diimpikan atau dicita-citakan. Sebagai seorang guru, terlebih guru penggerak

Visi dari guru penggerak adalah mewujudkan anak-anak Indonesia yang memiliki profil pelajar pancasila,yaitu pelajar yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, mandiri,inovatif,berkebhinekaan global,mampu hidup gotong royong serta mampu bernalar kritis. Untuk mencapai visi tersebut, tentunya guru harus memiliki nilai yang melekat dalam dirinya. Nilai-nilai tersebut adalah mandiri,reflektif,kolaboratif,inovatif dan berpihak pada murid. Disamping nilai-nilai tersebut, seorang guru penggerak juga harus memainkan perannya dalam dunia pendidikan yaitu menjadi pemimpin pembelajaran,mampu menggerakkan kelompok-kelompok praktisi,mampu menjadi coach atau pelatih bagi guru lain,mampu mendorong kerjasama antar guru,dan mendorong kepemimpinan yang berorientasi pada murid.

Visi Guru Penggerak dengan menerapkan paradigm Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA ( Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran,Gali potensi, Jabarkan rencana, Atur Eksekusi) diharapkan dapat mewujudkan  merdeka belajar bagi murid, sedangkan guru sebagai “Fasilitatornya”. Visi Guru Penggerak yang kami usung adalah Guru MIKIR( Mandiri, Inovatif, Kreatif dan Reflektif). Guru yang MIKIR diharapkan dapat mencetak murid yang MANIS ( Mandiri dan Eksis). Dengan guru MIKIR diharapkan dapat mewujudkan murid MANIS berdasarkan paradigm IA ( Inkuiri Apresiatif) dengan tahapan BAGJA, maka iklim belajar yang positif akan dapat dimunculkan. Iklim belajar positif dapat dimulai berpikir yang positif dari hal yang paling kecil dan mulai dari diri sendiri, maka akan muncul ungakapan –ungkapan positif sehingga bias mewujudkan rasa yang positif bagi diri sendiri dan Lingkungan sekitar.

Pada refleksi modul 1.3 kali ini, saya menerapkan model refleksi 4F yaitu facts (peristiwa), feelings (perasaan), findings (pembelajaran) dan future (penerapan).

1. Facts

Minggu ini merupakan minggu ke-16  saya mengikuti program guru penggerak. Awal motivasi saya ikut ingin menambah ilmu, mengembangkan diri. Saya mengembangkan berbagai bimtek baik di SIM PKB maupun diluar SIM PKB Alhamdulillah dengan ikut progrm CGP banyak sekali ilmu yang dapat diterapkan disekolah, belum lagi dapat ilmu dari Modul, sesama CGP, Pendamping,Fasilitator,dan Instruktur

sekolah tersebut. Kekuatan-kekuatan tersebut bisa diperoleh dari unsur intern dan ekstern. Unsur intern misalnya dari guru dan karyawan, sarpras sekolah, murid, budaya positif yang ada, dan sebagainya. Sementara unsur ekstrinsik bisa berupa lingkungan sekitar sekolah, kerjasama dengan pihak lain dan sebagainya. Kekuatan-kekuatan positif itulan yang harus digali dan dikembangkan.

Berdasarkan hal tersebut, Aksi nyata yang saya lakukan pada modul1.3 yaitu :

·     Mengkomunikasikan hasil rancangan visi misi yang telah dibuat pada saat Lokakarya 3 pada Kepala Sekolah, Waka kurikulum, dan rekan Sejawat.

·      Dengan ijin Kepala Sekolah membentuk Tim pengembangan visi misi sekolah oleh tim kurikulum

·      Memetakan kekuatan yang ada pada diri sendiri, pada sekolah, siswa, rekan sejawat dan lingkungan sekolah, orangtua atau komite.

·       Menyusun rancangan visi misi bersama dengan Tim Pengembang kurikulum

2. Feelings

Saat ini saya masuk dalam modul 1.4 dan saat membuka modul saya tertarik dengan dengan materi madul yang berjudul " Budaya Positif" . Namun dengan berjalannya waktu ketika membuka alur M dari tahapan "Merdeka " kemudian melangkah kealur E atau "Eksplorasi" konsep pada modul 1.4 sungguh sangat luar biasa materinya. Bagaimana kita seorang pendidik memahami betul tentang disiplin positif yang menjadi sebuah budaya , mulai dari materi perubahan paradigma, konsep disipin positif dan motivasi, keyakinan kelas,pemenuhan kebutuhan dasar, Lima posisi kontrol, dan segitiga restitusi. Materi sangat detail disertai contoh dan kasusnya

3. Findings

Terdapat teori ilusi kontrol dan stimulus respon yang menarik bagi saya dimana harus mempertahankan yang berharga pada diri saya, ternyata baru sadar bahwa selama ini kita terjadi kesalahan dalam dalam membimbing anak-anak Pada minggu ini saya membuat keyakinan bersama murid dari kesepakatan kelas yang telah kita buat bersama dan telah menyadarkan saya bahwa anak tidak terlepas dengan bermain, sehingga mereka mengharapkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan Aksi Nyata ini yaitu dengan mengetahui kekuatan dan aspek positif yang dimiliki, maka dapat dikembangkan budaya positif dalam penyusunan visi. Visi misi yang dilaksanakan dapat menjadi acuan pada penyusunan program sekolah yang berpihak pada murid, misalnya : penerapan pembelajaran diferensiasi dan KSE, kegiatan literasi, pesantren, dsb. Akan tetapi karena kondisi yang masih dalam masa pandemi, maka belum dapat maksimal melakukan sosialisasi visi misi baru secara keseluruhan khususnya pada siswa, wali murid

4. Future

Program guru penggerak ini sangat luar biasa , telah mengajarkan kepada kita bagaimana memanusiakan manusia . Mengajak dan melatih diri dan siswa untuk melakukan tindakan yang termotivasi dari diri bukan dari hukuman, paksaan, mengharapkan imbalan atau hadiah. Kita diajarkan bagaimana menghadapi kasus disekolah, apakah kita dalam menyelesaikan kasus dari sisi penghukum, pembuat orang bersalah, teman, pemantau atau manager. Semua terperinci dalam modul 1.4 ini Merdeka belajar, Pembelajaran yang berpihak pada murid memang benar. Dalam hal ini bukan saja tugas seorang diri namun orang tua juga memiliki tugas yang sama. Alhamdulillah puji syukur atas terselenggaranya program ini, saya secara pribadi tidak mengharapkan imbalan namun yang kami pikirkan bagaimana ilmu yang kami peroleh dapat diterapkan disekolah dengan baik

Yang bisa saya lakukan agar lebih baik dalam kegiatan ini diantaranya bersama-sama dengan Tim Pengembang kurikulum dalam mengembangkan Visi Misi menyusun progam sekolah yang berpihak pad murid dan mengembangkan budaya positif. Selain itu, bersama dengan Tim saya juga bisa melaksanakan sosialisasi visi misi pada siswa dan rekan sejawat.




Kamis, 07 April 2022

AKSI NYATA VISI MISI DAN BUDAYA POSITIF PEMBIASAAN LITERASI GICA ( GIAT BACA)

                                                                             LAPORAN 

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Program Pendidikan Guru Penggerak

 

Oleh :

Sri Wahyuningsih, S. Pd.

Calon Guru Penggerak Angkatan 4 Kota Semarang

  

 

PROGRAM GURU PENGGERAK ANGKATAN 4

 

SDN SENDANGMULYO 02

KOTA SEMARANG

 

TAHUN 2022

 

Tugas Individu Modul 1.4.a.10 Aksi Nyata Budaya Positif

 

1. Latar Belakang

 

SDN Sendangmulyo 02 dengan alamat di Jl Klipang Raya No 2 Kelurahan Sendangmulyo Kecamatan Tembalang Kota Semarang yang berdiri pada tahun 1977 dengan luas 3.990 m. Pada tahun pelajaran 2021/2022 jumlah siswa SDN Sendangmulyo mencapai 535 siswa, 25 guru 3 karyawan dan 1 Kepala Sekolah. SDN Sendangmuly 02 adalah salah satu sekolah  yang menerapkan budaya positif diantaranya: Menerapkan Salam Sapa  yaitu bapak ibu guru menyambut siswa dipintu gerbang sekolah pada setiap paginya, Melakukan apel pagi, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan membaca Janji Siswa untuk menerapkan budaya positif disiplin dan nasionalisme, Serta Melakukan Doa bersama, membaca Asmaul Husna dan sholat berjamaah dalam meningkatkan religiusitas warga sekolah.

Namun dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini Negeri kita dilanda Covid 19 sehingga pembelajaran dilakukan secara daring. Pada bulan Agustus tahun 2021 diujicoba untuk dilakukan PTM ( Pembelajaran tatap muka terbatas) dengan kapasitas 50% secara bergantian. Pada bulan ini dilakukan PTM 100% dengan menerapkan protokol kesehatan.

Budaya positif sangat penting untuk diterapkan terutama di lingkungan SDN Sendangmulyo 02 karena sekolah adalah lingkungan atau tempat pendidikan bagi siswa baik itu berupa ilmu pengetahuan maupun penanaman karakter pada siswa. Pembiasaan budaya positif yang kita terapkan pada kehidupan sehari-hari dalam proses belajar mengajar di sekolah sangat berpengaruh  untuk masa depan  siswa.

2. Tujuan Aksi Nyata

Dalam mewujudkan generasi bangsa yang cerdas, terampil dan berprestasi khususnya di SDN Sendangmulyo 02 , Saya sebagai pendidik sekaligus Calon Guru Penggerak angkatan IV memiliki program budaya positif yaitu LITERASI GICA ( GIAT BACA) yang bertujuan :

a. Menumbuhkan pada siswa untuk melakukan praktik baik dalam menumbuhkembangkan kegemaran membaca

b. Untuk mengasah kemampuan siswa dalam menyimpulkan isi bacaan

c. Untuk meningkatkan wawasan peserta didik dan menumbuhkan karakter siswa

d. Membentuk pribadi yang terampil cerdas dan berwawasan luas

3. Deskripsi Aksi Nyata

Pelaksanaan budaya positif di lingkungan SDN Sendangmulyo 02 yang telah kami buat menjadi program dengan dukungan dari kepala sekolah, teman sejawat, siswa, maupun orang tua siswa. Saya memiliki harapan besar dalam mewujudkan budaya “LITERASI GICA atau GIAT dan BACA” .  Adapun langkah – langkah yang saya terapkan melalui aksi nyata antara lain :

a. Dengan memberikan pertanyaan untuk menstimulasi dan melihat kemampuan siswa dalam mengambil inti sari atau kesimpuan pada bacaaan

b. Memberikan apresiasi kepada siswa yang telah berani maju kedepan dalam menyampaikan kesimpulan pada bacaan

c. Memberikan motivasi kepada siswa untuk mendorong siswa agar mereka mau da mampu menyampaikan isi bacaan didepan kelas

d. Membuat kesepakatan kelas dengan bimbingan guru yang disetujui bersama siswa, untuk dapat dilakukan bersama dengan penuh tanggungjawab

e. Mencari bibit unggul siswa yang memiliki bakat dibidang pidato,dongeng dan puisi

4. Tolak Ukur Keberhasilan

Dengan pembiasaan yang telah diterapkan dapat  merubah karakter setiap individu murid sesuai keyakinan yang telah mereka sepakati bersama, keberhasilan dapat terlihat melalui :

a. Siswa terlihat banyak dan semakin bertambah menjalankan kesepakatan kelas saat di lingkungan sekolah.

b. Semangat untuk tampil ke depan terlihat semakin banyak siswa yang mau dan mampu  terutama saat sebelum  proses belajar – mengajar berlangsung

c. Terjalin komunikasi positif dan interaksi tanya jawab anatara siswa dengan siswa dan siswa dengan bapak ibu guru serta sebaliknya, sebagai penguat keyakinan dalam pembentukan pembentukan karakter.

d. Semakin terjalin hubungan  kolaborasi guru dengan murid sehingga Guru cukup memberikan arahan dan bimbingan .

5. Hambatan

a. Ada beberapa siswa yang kurang percaya diri walaupun sudah diberi motivasi dan pendekatan, dikarenakan perasaan malu, takut atau minder.

b. Beberapa orang tua siswa kurang peduli dengan kemajuan karakter anak karena kesibukan orang tua bekerja

6. Tindak Lanjut 

Saya sebagai guru di SDN Sendangmulyo 02 sekaligus peserta diklat CGP angkatan 4 Kota Semarang akan menganalis dan mengevaluasi program GICA ( Giat Baca ) apa yang menjadi hambatan dan kendala, sehingga akan segera ditindaklanjuti terhadapa pelaksanaan program tersebut. Akan melakukan koordinasi sama koordinator  masing2 kelas apakah program terlaksana dengan baik atau tidak. Jika tidak kendalanya apa, sehinggga tidak terlaksana maka dicari solusi bersama, agar program terlaksana sesuai harapan yang kita inginkan.

 

7. Posisi Kontrol Guru

Guru sebagai manager jika ada murid yang melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan kelas, maka guru akan bertanya kepada anak tentang aasan mengapa anak tersebut melanggar aturan dan membuat kesepakatan kelas untuk melakukan tindakan perbaikan.

8. Kesepakatan Kelas

Kesepakatan kelas merupakan aturan-aturan untuk membantu guru dan murid dalam bekerjasama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas terdapat harapan guru terhadap murid dan harapan murid terhadap guru. Kesepakatan yang disusun harus mudah dipahami dan langsung diterapkan,dapat diperbaiki dan dapat dikembangkan secara berkala.

Foto Kesepakatan Kelas 4B


9. Sosialisasi Budaya Positif Dengan Rekan Sejawat dan  Orangtua Siswa

 

Sosialisasi Budaya Positif Dengan Rekan Sejawat

Kegiatan sosialisasi dilakukan dengan tujuan agar semua siswa diSDN Sendangmulyo 02 melakukan kegiatan Giat Baca atau GICA agar siswa bertambah wawasan dan pengetahuan karena akhir-akhir ini minat baca siswa diIndonesia khususnya menurun drastis karena dampak datangnya teknologi berupa Handphone, sehingga perhatian siswa lebih menyukai aplikasi yang terdapat dalam HP daripada membaca buku. Sosialisasi dilakukan pada tanggal 6 Januari 2022 dan 9 April 2022.

Adapun sosialisasi kepada orangtua dilakukan pada Desember 2021 dan 7 April 2022

Terkait budaya positif, pengembangan diri siswa dan budaya Giat Baca . Orangtua memberikan dukungan dan apresiasi kepada ibu guru kelas 4B mengenai program budaya positif dan pengembangan diri, sehingga anak menjadi bersemanagat dalam belajar dan dalam rangka menumbuhkan karakter siswa dan menambah wawasan dan pengetahuan anak,sehingga diharapkan terwujudnya merdeka belajar dan profil pelajar pancasila.

Dokumentasi Sosialisasi Budaya Positif 1.4 Dengan Rekan Sejawat Pada tanggal 6 Januari 2022


 

 

 

 

Dokumentasi Sosialisasi Budaya Positif 1.4 terkait Visi Misi Sekolah Program Giat Baca ( GICA) dengan rekan sejawat pada tangal 7 April 2022

 

 

10. Sosialisasi Dengan Orangtua melalui WA dan Kuisioner Google Forms


https://docs.google.com/spreadsheets/d/1-F89lL8Pv050hswvz5IGXV2WMcCGgGp7/edit?usp=sharing&ouid=103273054460597696499&rtpof=true&sd=true


11. Dokumentasi Aksi Nyata

Foto Kegiatan Literasi GICA ( Giat Baca)

12. Foto Kegiatan Praktik Membuat Juz sebagai kegiatan Wirausaha








13. Foto Kegiatan Pelatihan Canva untuk Siswa








14. Foto Kegiatan Unjuk Kerja Siswa ( Pidato,Puisi,Menyanyi dan Dongeng)




15. Foto Kegiatan Menanam Cabe dan Tomat 








16. Foto kegiatan Komunitas Praktisi Pelatihan Editing Video



17. Komunitas Praktisi Pemantapan Pendaftaran PGP Angkatan 7





  Pembelajaran Berdiferensiasi Produk Pada Mapel Seni Rupa Kelas 4 B SDN Sendangmulyo 02 Korsatpen Tembalang Kota Semarang   A.     PENG...