Kamis, 27 Januari 2022

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF MODUL 1.4.a.10.2 GURU PENGGERAK



A. LATAR BELAKANG


        Sekolah impian adalah sekolah yang mampu menciptakan kenyamanan dan memberikan kemerdekaan untuk hidup dan berkembang bagi peserta didik sesuai kodratnya. Sekolah tersebut terhindar dari segala macam bentuk penindasan, bulliying, kekerasan dan pemaksaan terhadap warga sekolah khususnya peserta didik. Sekolah yang dapat menciptakan suasana yang penuh dengan kehamonisan dan pembiasaan yang positif

        Sekolah berusaha menciptakan iklim pendidikan yang mampu membiasakan setiap warganya khususnya peserta didik melakukan budaya atau kebiasaan yang positif. Budaya yang mengakar kuat dan menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan secara kontinyu dan sadar oleh setiap warga sekolah. Semua pihak harus terlibat dalam pembiasaan positif tersebut. Pembiasaan positif yang merupakan budaya positif akan menjadi budaya sekolah.

        Budaya yang dipegang teguh oleh seluruh warga sekolah dan menjadi kekhasan dari sekolah tersebut. Budaya tersebut harus terintegrasi dalam seluruh kegiatan sekolah, baik dalam pra pembelajaran, proses pembelajaran ataupun di luar kelas seperti dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pertanyaannya adalah bagaimana budaya positif dapat tumbuh dan tertanam dalam proses pembelajaran, bagaimana budaya positif dapat terbiasa dilakukan dalam kegiatan ekastrakurikuler. Harapannya jika budaya positif mengakar dalam diri setiap peserta didik, maka profil pelajar Pancasila akan tercipta.

        Pendidikan adalah sebuah tuntunan dalam hidup dan tumbuh kembang anak. Setiap anak memiliki kekuatan dirinya sendiri, memiliki pengalaman dan kekayaan. Pendidikan haruslah membimbing dan menguatkan apa yang ada di dalam diri setiap anak agar dapat memperbaiki tingkah lakunya, cara hidupnya dan pertumbuhannya. Dalam proses menuntun, anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang unik.

 Guru sebagai pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaan dalam belajar. Guru diharapkan memiliki nilai-nilai positif yang dibutuhkan untuk membentuk karakter pelajar Pancasila dengan memberi contoh dan melakukan pembiasaan yang konsisten di sekolah. Pengembangan budaya positif dapat menumbuhkan motivasi instrinsik dalam diri anak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta akhlak mulia.

       Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan asumsi dasar yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan diyakini di sekolah. Budaya positif tersebut berisi kebiasaan-kebiasaan yang sudah disepakati bersama dan dijalankan dalam waktu yang lama dengan memperhatikan kodrat anak dalam hal ini kodrat alam dan kodrat zaman serta berpihak pada anak. Beberapa nilai dari keyakinan kelas yang disepakati antara lain saling menghormati  contohnya Berdoa bersama sebelum dan sesudah pelajaran, Menghormati bapak ibu guru dan menyayangi teman, Menjaga kebersihan kelas dan lingkungan kelas, Datang tepat waktu, Siap melaksanakan 5 S ( Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun ), Melaksanakan tugas disekolah dan dirumah dengan penuh tanggungjawab, Menjaga kelestarian lingkungan sekolah, Melaksanakan Apel pagi setiap hari dengan hikmad, Melaksanakan Sholat dhuha setiap hari jumat, Melakukan pengolahan sampah setiap jumat dan jumat bersih

        Pengembangan budaya positif yang dilakukan dengan baik pada murid diharapkan akan berdampak pada terwujudnya merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila yakni: Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Kreatif, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis dan Mandiri.

B. DESKRIPSI AKSI NYATA

1. Tujuan

    Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam menyusun laporan aksi nyata mengenai budaya positif ini memiliki beberapa tujuan diantaranya;

1.Menumbuhkan budaya positif dengan kesepakatan kelas dan keyakinan kelas

2. Menumbuhkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila pada diri peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

3. Mengintegrasikan dan membiasakan peserta didik untuk menanamkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila baik dilingkungan sekolah maupun luar sekolah 

2. Tolak Ukur

Tolak ukur budaya positif di sekolah yaitu :

1)    Peserta didik berkarakter Religius dan berakhlak mulia.

2)    Peserta didik berjiwa nasionalis dan cinta tanah air.

3)   Peserta didik terbiasa menerapkan budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan Santun dan Salaman ).

4)    peserta didik terlibat aktif, mandiri, kreatif dan bertanggung jawab dalam belajar.

5)    Peserta didik toleran dan saling menghormati.

6)    Peserta didik  peduli dalam kesehatan dan kebersihan lingkungan.

7) Mewujudkan siswa yang memiliki karakater nilai beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia sebagai bentuk budaya positif di sekolah

8) Perubahan perilaku budaya postif yang dilakukan murid dan seluruh warga sekolah 

9) Respon murid dalam menghadapi permasalahan baik disekolah maupun dilingkungan sekitar

10) Keberhasilan prestasin murid 

3. LINIMASA TINDAKAN YANG AKAN DILAKUKAN

Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan:

1. Sosialisasi kepada seluruh warga sekolah meliputi kepala sekolah, guru, peserta didik, dan tenaga kependidikan terkait disiplin positif, kesepakatan kelas dan profil pelajar Pancasila.

2. Guru menjelaskan tentang pengertian dan pentingnya kesepakatan kelas.

3. Guru memfasilatasi peserta didik untuk membuat kesepakatan kelas.

4. Kesepakatan kelas yang telah disepakati selanjutnya ditandatangani seluruh warga kelas dan dipasang di dinding kelas.

5. Sosialisasi kepada seluruh peserta didik baru tentang penumbuhan karakter 

6. Menumbuhkan, menanamkan dan membiasakan nilai-nilai profil pelajar pancasila dan kegiatan ekstrakurikuler.

7. Mendokumentasikan setiap kegiatan ekstrakurikuler yang menumbuhkan, mencerminkan dan membiasakan nilai-nilai 

Strategi dalam pelaksanaannya :

Membuat perencanaan

Direncanakan akan dimulai pada semester genap Tahun Pelajaran 2021/2022 (Januari 2022)

Proses pelaksanaannya

•         Adapun rincian dari tindakan aksi nyata yang dilakukan adalah:

1. Pekan ke-1: Meminta izin dan dukungan kepada kepala sekolah terkait aksi  nyata yang akan dilakukan

2. Pekan ke-2: Mensosialisasikan kepada rekan-rekan guru dan peserta didik tentang kegiatan aksi nyata (Video pengimbasan  filosofi Ki Hajar Dewantara dan Budaya Positif dapat dilihat di link berikut : 

3. Pekan ke-3: Memfasilitasi peserta didik  dalam menerapkan budaya positif dan Filosofi Ki Hajar Dewantara di kelas dengan membuat kesepakatan terkait  keyakinan kelas dan hal-hal positif lainnya

Refleksi 

Apabila terjadi kendala selama penerapan perubahan segera mungkin diselesaikan, apakah perlu dikaji ulang.

4. DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN 

Dukungan yang dibutuhkan dalam Aksi Nyata dan Pengimbasan Budaya Positif dalam Program Guru Penggerak ini adalah semua asset pendukung di luar diri saya, yaitu;

1. Kepala Sekolah dan Guru serta Karyawan 

2. Orang tua di rumah dalam membiasakan budaya positif.

3. Komite dan semua Stakeholder yang saling mendukung

4. Seluruh warga sekolah berkolaborasi, bergotong royong dan bergerak bersinergis dalam menciptakan serta membiasakan budaya positif di sekolah.

Cara saya mendapatkan dukungan adalah :

Meminta izin dan dukungan kepada kepala sekolah terkait aksi nyata dan program yang akan dilakukan

Mensosialisasikan kepada rekan Guru dan peserta didik. Menyampaikan perubahan yang ingin dicapai, bersama-sama dan bekerjasama antar semua elemen sekolah untuk mewujudkannya.

Menerapkan keyakinan kelas di kelas masing-masing , sehingga seluruh pendidik dan peserta didik memulai dari diri mereka untuk melakukan perubahan.

Bersama-sama merefleksi dan mengevaluasi untuk perbaikan

C.HASIL AKSI NYATA

Adapun hasil aksi nyata dari kegiatan tersebut adalah:

1. Peserta didik terbiasa menerapkan budaya 6 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan Santun dan Salaman )

2. Peserta didik terbiasa menyanyikan Lagu Indonesia Raya sebelum KBM dimulai, sebagai bentuk menanamkan cinta tanah air dan jiwa nasionalisme dan membaca Asmaul Husna untuk menanamkan jiwa religius dan berakhlak mulia

3. Peserta didik secara sadar berusaha mematuhi keyakinan kelas yang telah disepakati

4. Guru memahami tentang budaya positif dan berusaha menerapkan di kelas masing-masing

5. Peserta didik  mulai melakukan budaya positif

6. Pembelajaran menyenangkan dan berpihak pada murid.


            Aksi nyata ini dilakukan sebagai langkah awal untuk  menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan pada peserta didik sehingga menjadi sebuah pembiasaan dan akhirnya menjadi budaya positif bukan hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Foto 1 : Pengimbasan Budaya Positif dan Filososfi Pemikiran KHD kepada Rekan Guru di sekolah

Foto 2 : Budaya Positif siswa mencuci tangan sebelum masuk ke lingkungan sekolah



Foto 3 : Budaya Positif pembiasaan 6 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun dan Salaman)


Foto 4 : Budaya Positif Pembiasaan menyanyikan Lagu Indonesia Raya untuk menanamkan cinta tanah air dan jiwa nasionalisme.





Foto 5 : Budaya Positif Pembiasaan pembacaan Asmaul husna untuk menanamkan jiwa religius dan akhlak mulia




Foto 6 : Budaya Positif Penyusunan Kesepakatan Keyakinan Kelas



Foto 7 : Budaya Positif pembelajaran di kelas dengan berpusat dan berpihak pada murid



Foto 8 : Budaya Positif melaksanakan sholat dhuhur dan dhuha setiap jumat secara berjamaah 





Baca juga : https://sriwahyuningsih81.blogspot.com/2021/11/visi-guru-penggerak.html

RENCANA PERBAIKAN DI MASA MENDATANG

1. Guru penggerak harus terus berupaya menggerakkan rekan-rekan guru untuk menerapkan posisi kontrol yang tepat dalam menumbuhkan motivasi intrinsik peserta didik dan menciptakan budaya positif di sekolah serta terus membangun kolaborasi demi terwujudnya budaya positif di sekolah sehingga terlahir peserta didik sesuai profil pelajar Pancasila.

2. Guru penggerak harus terus berinovasi dan berkreasi dalam melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid dengan berusaha mengembangkan bakat dan minat peserta didik.

Saksikan sosialisasi Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Budaya Positif Guru Penggerak



Rabu, 01 Desember 2021

VISI GURU PENGGERAK

Modul 1.3 Visi Guru Penggerak Visi: Mengelola Perubahan yang Positif Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Mungkin saja, sebagian guru juga menuliskan mimpi itu pada gambaran visinya. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan. Perlu perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Inilah salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Visi membantu kita untuk melihat kondisi saat ini sebagai garis “start” dan membayangkan garis “finish” seperti apa yang ingin dicapai. Ini bagaikan seorang pelari yang perlu mengetahui garis “start” dan garis “finish” bahkan sebelum ia benar-benar berlari melintasi jalur lari tersebut. Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah. Budaya sekolah berarti merujuk pada kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan di sekolah. Kebiasaan ini dapat berupa sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi. Hal ini berarti butuh partisipasi dari semua warga sekolah. Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat bertahap. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, guru hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di dalam pengaruhnya untuk menjalani proses perubahan ini bersama-sama. Hal ini perlu dilakukan dengan niatan belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam modul ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita impikan. Dalam sebuah video di Youtube, Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan. Dalam video di Youtube tersebut, Cooperider juga menceritakan bahwa pendapatnya ini sejalan dengan pendapat Peter Drucker, seorang Begawan dalam dunia kepemimpinan dan manajemen. Menurut Drucker, kepemimpinan dan manajemen adalah keabadian. Oleh sebab itu, seorang pemimpin bertugas menyelaraskan kekuatan yang dimiliki organisasi. Caranya adalah dengan mengupayakan agar kelemahan suatu sistem dalam organisasi menjadi tidak relevan, karena semua aspek dalam organisasi fokus pada penyelarasan kekuatan. Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah. Inilah langkah-langkah yang perlu kita ikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang kita telah impikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama. Di tahap ini, kita merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran. Pada tahapan ini, kita mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi. Pada tahapan ini, kita dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana. Di tahapan ini, kita dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi. Di bagian ini, kita memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan. Semoga semua visi yang telah kita susun memperkaya “persenjataan” dalam meniti langkah-langkah kecil hingga terwujudnya visi kita mengenai murid. Pada awal penerapannya, mungkin kita akan merasakan kejanggalan atau meragukan keberhasilannya. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba dan menikmati kurva belajarnya. Kurva belajar yang kita akan alami mirip seperti seekor anak burung yang belajar terbang. Pada saat pertama kali terbang, jalur terbang anak burung tidak akan langsung ke atas, tapi akan ke bawah dahulu kemudian meliuk ke atas sebagaimana terlihat pada gambar di atas. Dengan merujuk pada kurva belajar ini, maka marilah terus percaya bahwa pendekatan positif akan membuahkan hasil yang lebih luar biasa. Ini adalah kebiasaan baru. Sumber : Modul CGP

Sabtu, 27 November 2021

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL - METODE INKUIRI APRESIATIF MODUL 1.3.A.7.1

Demonstrasi Kontekstual - Menerapkan Inkuiri Apresiatif “Strategi Pengenalan Kekuatan dan Potensi Murid” Sebagai pendidik, merupakan hal yang lumrah terjadi ketika perhatian kita lebih banyak tertuju pada murid yang secara akademik berprestasi atau malah lebih memfokuskan perhatian pada murid ‘bermasalah’ atau murid yang mengalami kesulitan untuk dididik. Namun, seringkali kita lupa bahwa mayoritas murid yang kita miliki adalah murid-murid yang tampak biasa saja. Murid-murid ini memiliki kemungkinan untuk kita abaikan karena tidak ada hal menonjol yang mereka miliki. Namun, perlu ada perubahan dalam memandang mereka dan mendidik mereka. Ingat kembali tujuan pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Pedoman ini adalah Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan menjadi pegangan untuk para pendidik di ruang belajar yang lebih kecil. Profil ini tidak hanya dimiliki oleh murid berprestasi secara akademik atau murid yang menonjol dalam bakat lainnya, profil pelajar Pancasila ini diharapkan dimiliki oleh seluruh murid Anda di dalam kelas. Oleh karena itu, pada Tugas Individu kali ini, Bapak/Ibu diminta membuat rancangan tindakan perubahan berdasarkan tahapan B-A-G-J-A untuk mulai mengubah arah didikan dengan lebih adil dan berpihak pada murid, khususnya pada murid yang selama ini jarang diperhatikan. Temukan potensi dan kekuatan yang mereka miliki serta temukan juga hal baru apa yang dapat Anda lakukan untuk menggali potensi mereka. “Kekuatan dan Potensi Murid” Fokuskan diri Anda untuk menjalankan B-A-G-J-A tahap demi tahap. Susunlah pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengungkap hal paling menyenangkan, positif atau menarik apa yang Anda temukan saat berinteraksi dengan murid yang tampak biasa ini. Bukalah ruang dialog bersama murid-murid ini untuk menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai di tiap tahapan B-A-G-J-A Anda. Model B-A-G-J-A merupakan praktik membawakan proses perubahan berbasis kekuatan. Untuk memperjelas gambaran tugas yang harus Anda kerjakan, pada kesempatan ini kita akan ambil contoh di tahapan Buat pertanyaan utama (inisial B dalam B-A-G-J-A). Tahapan ini adalah tahap menemukan apa yang ingin Anda selidiki menjadi bentuk pertanyaan. Misalnya: Kita akan menyelidiki apa saja yang potensi yang murid-murid biasa ini tunjukkan ketika belajar. Oleh karena itu, pertanyaan utama penyelidikannya antara lain adalah: • Hal baik apa yang dapat Anda temukan dari murid rata-rata ini dalam kegiatan belajar? • Hal menarik apa yang dapat Anda pelajari dari respon, aktivitas, dan hasil belajar yang murid rata-rata ini? Jalankan setiap tahapan dan pertanyaan dalam model B-A-G-J-A secara lengkap. Pada pembelajaran sebelumnya, Anda telah membuat pemetaan kekuatan. Nah, Anda dapat memanfaatkan informasi dalam daftar tersebut. Kemudian susunlah dengan sungguh-sungguh sebuah rencana rekomendasi seolah-olah Anda akan segera melaksanakannya 1.3.a.7.1. Demonstrasi Kontekstual - Menerapkan Inkuiri Apresiatif PRAKARSA PERUBAHAN BAGAIMANA CARA MENINGKATKAN KEBERANIAN BERPENDAPAT ANAK TAHAPAN Pertanyaan Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan B-uat Pertanyaan (Define) 1. Mengapa anak tidak berani dalam menyampaikan pendapat? 2. Bagaimana solusi yang dapat saya lakukan untuk menumbuhkan sikap berani berpendapat? • Memberi anak motivasi tentang manfaat dari berani berpendapat • Berdiskusi dengan rekan guru sejawat. • Mencari informasi melalui media sosial. • Mencoba dengan metode yang sudah diketahui. • Membiasakan semua anak mempunyai kesempatan berpendapat. A-mbil Pelajaran (Discover) 1. Mencari tahu siapakah orang yang sudah berhasil menumbuhkan sikap berani anak berpendapat? 2. Bagaiamana cara dia menumbuhkannya keberanian berpendapat? 3. Dalam bentuk Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam dalam menumbuhkan sikap berani tersebut ? 4. Situasi yang seperti apakah yang dapat mendukung tumbuhnya sikap berani ini dalam suatu kegiatan ? 5. Keterampilan-keterampilan apa saja yang harus dikuasai dalam mendukung sikap berani pada anak ? • Berkonsultasi dengan kepala sekolah dan guru-guru yang pernah berhasil menerapkan suatu metode dalam menumbuhkan sikap berani pada anak. • Mencari tahu dan mencatat bagiamana dia mengelola kelas dalam suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap berani anak. • Mengidentifikasi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan seorang guru dalam menumbuhkan sikap berani anak. • Mengumpulkan fakta dari beberapa orang yang berhasil menumbuhkan keberanian berpendapat. • Memggali pengalaman keberhasilan dari anak-anak yang berani berpendapat. • Menceritakan kepada anak-anak perubahan yang baik yang terjadi pada anak-anak yang sudah berani berpendapat. G-ali Mimpi (Dream) 1. Bisakah anak-anak saya semuanya berani berpendapat dalam situasi apapun? 2. Apa yang saya rasakan ketika melihat sikap berani sudah tumbuh pada anak murid saya ? 3. Apa saja hal-hal baru yang bisa saya lakukan setelah sikap berani ini tumbuh ? 4. Apa hal-hal yang dapat mendukung agar sikap berani terus tumbuh dan menjadi karakter peserta didik ? • Membuat skema atau model belajar yang mampu menumbuhkan kemampuan berpendapat. • Menjadikan kelas adalah milik bersama bukan milik guru atau beberapa anak. • Menyakinkan kepada anak bahwa berani itu seru. • Membuat rancangan sikap dan suasana diri. • Mencoba mengatur dan mengkondisikan lingkungan kelas. • Mempraktekkan kebiasan-kebiasan tersebut secara kontinyu. • Menghidupkan suasana kelas yang menyenangkan. • Komunikasi multi arah. J-abarkan Rencana (Desing) 1. Berapa lama target untuk mencapai sikap berani tersebut ? 2. Apa tindakan-tindakan yang bisa mendukung usaha mencapai tumbuhnya sikap berani tersebut ? 3. Bagaimana mengukur kemajuan dan progres langkah langkah tersebut ? 4. Bagaimana cara saling menyemangati dan mengisi usaha bersama mencapai tumbuhnya sikap berani peserta didik ? 5. Apa langkah paling sederhana atau langkah pertama yang bisa dilakukan ? • Bertanya motivasi kepada siswa yang berani berpendapat. • Bertanya kepada siswa tentang ketakutan siswa biasa berpendapat. • Membuat suasana belajar yang menyenangkan. • Mendesain model pembelajaran yang memberikan semua orang untuk berpendapat. • Selalu memberikan motivasi kepada siswa dalam kegiatan belajar untuk selalu berani berpendapat. • Membuat capaian yang realistis untuk setiap kali pertemuan. • Membuat catatan khusus target yang akan dicapai. • Mencoba kolaborasi dengan guru teman sejawat. • Merencanakan pembelajaran yang mendorong tumbuh sikap berani tersebut. • Melakukan aktivitas diskusi dan Tanya jawab. • Selalu memberikan penghargaan kepada anak setiap mereka berani berpendapat mulai dari hal kecil seperti ajungan jempol dan sebagainya A-tur eksekusi (Deliver) 1. Siapa saja yang akan saya libatkan dalam mewujudkan rencana ini ? 2. Kapan rencana menumbuhkan sikap berani murid ini akan mulai dilakukan ? 3. Siapa yang bisa mengamati dan memantau proses rencana ini ? 4. Bagaimana pencatatan kemajuan sikap berani anak ? 5. Siapa yang akan menampung curhatan kesulitan-kesulitan saya melakukan penumbuhan sikap berani peserta didik tersebut ? 6. Kepada siapa saya akan laporkan kegiatan saya ini. 7. Bagaimana tindakan lanjutkan untuk semakin menumbuhkan sikap berani berpendapat ini agar menjadi suatu kebiasaan. 8. Bagaimana cara menjaga hal baik sudah ada secara kontinyu. • Mengajak rekan guru sejawat. • Dilakukan pada setiap pertemuan di kelas. • Sering melakukan komunikasi dengan siswa yang biasa di luar kelas untuk menumbuhkan sikap simpati dan empati. • Meminta kepada siswa lain untuk saling sufort agar sama-sama berkembang. • Menyiapkan wadah atau tempat menyampaikan pendapat secara bebas di sekolah seperti forum diskusi. • Bekerjasama dengan semua guru untuk melakukan hal yang sama. • Membiasakan budaya saling menghargai dan menghormati. • Kepala sekolah mengarahkan guru untuk memberi perhatian sama kepada siswa biasa. • Mengadakan lomba poster dengan tema berani berpendapat untuk semua siswa. • Meminta teman sejawat menjadi observer. • Kepala Sekolah dan guru-guru di sekolah sama-sama mencari solusi terbaik dalam suatu forum diskusi. • Tetap berusaha dan menjaga kebiasaan baik secara kontinyu.

Rabu, 24 November 2021

PETA KEKUATAN SDN SENDANGMULYO 02 MODUL 1.3.A.5.1

Komponen -komponen yang perlu ada dalam pemetaan : 1. Sekolah ( Sarpras ) Fungsi Menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung dalam pencapaian visi 2.Siswa / PD Fungsi Mengembangkan potensi dan mengikuti kegiatan yang ada disekolah 3. Guru Atau Rekan Sejawat Fungsi Menyusun dan melaksanakan kegiatan untuk pencapaian visi 4. Komite Sekolah Sebagai penghubung antara orangtua dan pihak sekolah 5. Kepala sekolah: Sebagai pengambil kebijakan 6. Pengawas Sekolah: Melakukan pembinaan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan 7. Tenaga Kependidikan : Memberikan layanan administrasi yang dibutuhkan dan dapat berkolaborasi dengan guru 8. Dinas pendidikan: Pembuat kebijakan

Selasa, 23 November 2021

1.3.a.4.2. Eksplorasi Konsep - Berbagi Tugas Kesimpulan tentang Inkuiri Apresiatif

Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman, bagi murid adalah termasuk impian saya dan impian semua pihak. Reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya membutuhkan waktu dan bersifat gradual atau bertahap. Guru Penggerak haruslah terus berlatih self manajemen sambil terus berusaha menggerakkan orang lain yang menjadi rekan untuk menjalani proses secara bersama-sama. Inkuiri Apresiatif (IA) dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep Inkuiri Apresiatif pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider. Inkuiri Apresiatif menggunakan prinsip utama yaitu psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan Inkuiri Apresiatif dapat dimulai dengan mengidentifikan hal baik yang sudah ada di sekolah, mencari cara agar hal yang baik dapat dipertahankan, sehingga kelemahan dan kekurangan serta ketidakadaan menjadi tidak relevan. Tahapan utama dalam pendekatan Inkuiri Apresiatif adalah BAGJA. Dalam bahasa Sunda, BAGJA artinya bahagia. BAGJA kepanjangadari Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabaran Rencana, Atur Eksekusi. Dengan keterangan sebagai berikut: 1. Buat Pertanyaan adalah menentukan arah penelusuran berdasarkan pertanyaan-pertanyaan. 2. Ambil Pelajaran adalah fokus satu pertanyaan utama yang disepakati, kemudian ambil pelajaran hal positif indvidu atau kelompok dari pertanyaan tersebut. 3. Gali Mimpi adalah menggali mimpi sebagai keadaan ideal yang diinginkan melalui sebuah narasi berdasar atas keadaan yang ada. 4. Jabaran Rencana adalah mengidentifikasi tindakan yang diperlukan dan mengambil keputusan-keputusan berdasarkan perencanaan awal dari pettanyaan yag tersusun agar lebih nyata. 5. Atur Eksekusi adalah membantu transformasi rencana menjadi nyata yang mampu memutuskan peran dalam pelaksanaan. Informasi yang dapat adalah pendekatan atau paradigma inkuiri apresiatif . Hal ini dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan . Dimana pendekatan ini meyakini bahwa setiap orang memiliki hal atau inti positif yang ada disekolah, mencari cara agar dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkannya untuk kemudian menyelaraskan dengan visi sekolah. Hal itu sangat mendukung peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran karena kita dituntut untuk melihat hal-hal positif pada murid atau anak kemudian kita sebagai guru sekaligus pendidik berkewajiban menembangkan bakatnya sesuai kodratnya

Minggu, 21 November 2021

VISI GURU PENGGERAK

Sejak kecil, kita sering ditanya, apa cita-citamu? Ada yang menjawab, mau jadi tentara, polisi, dokter, perawat, guru, pilot dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu, kadang cita-cita seseorang itu berubah. Sesuai dengan motivasinya. Berbicara tentang cita-cita sama halnya berbicara tentang impian, atau harapan. Harapan, cita-cita atau impian kadang terwujud atau tidak. Harapan, cita-cita, atau impian disebut dengan visi. Visi merupakan awal dari usaha untuk menggapai sesuatu yang kita impikan. Visi memberikan arah dan motivasi untuk meraih perubahan yang diimpikan atau dicita-citakan. Sebagai seorang guru, terlebih guru penggerak tentu memiliki visi. Visi dari guru penggerak adalah mewujudkan anak-anak Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila. Yaitu pelajar yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, mandiri, inovatif, berkebhinekaan global, mampu hidup bergotong royong, serta mampu bernalar kritis. Untuk mencapai visi tersebut, tentunya guru harus memiliki nilai yang melekat dalam dirinya. Nilai-nilai tersebut adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Di samping nilai-nilai tersebut, seorang guru penggerak juga harus memainkan perannya dalam dunia pendidikan yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, mampu menggerakkan kelompok-kelompok praktisi, mampu menjadi coach atau pelatih bagi guru-guru lain, mampu mendorong kerja sama antar guru, dan mendorong kepemimpinan yang berorientasi pada murid. Visi Guru Penggerak dengan menerapkan paradigma Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali potensi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi) diharapkan dapat mewujudkan merdeka belajar bagi murid dengan guru sebagai fasilitatornya. Visi Guru Penggerak yang coba kami usung adalah Guru MIKIR (Mandiri, Inovatif,Kreatif dan Reflektif). Guru yang MIKIR diharapkan dapat mencetak murid yang MANIS (Mandiri dan Eksis). Dengan guru MIKIR yang mewujudkan murid MANIS, berdasarkan paradigma IA dengan tahapan BAGJA, maka iklim belajar yang positif akan dapat dimunculkan. Iklim belajar positif dapat dimulai dari berpikir yang positif mulai dari hal yang paling kecil dan mulai dari diri sendiri, maka akan muncul perkataan – perkataan / ungkapan – ungkapan positif, sehingga bisa mewujudkan rasa yang positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Salam Guru Penggerak_Maju Bersama_Indonesia Maju

Selasa, 16 November 2021

TUGAS MODUL 1.2.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

Assalamualaikum Warrohmatullahi wabarokatuh TUGAS MODUL 1.2.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK 1. Apa yang anda pahami mengenai nilai dan peran guru penggerak? Guru penggerak harus memiliki nilai mandiri, inovatif, Kolaboratif, reflektif dan berpihak pada murid. Dalam hal ini guru penggerak juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kemandirian, mampu melakukan inovasi dalam pembelajaran, melakukan refleksi setelah pembelajaran dan melakukan pembelajaran yang berpusat pada anak. Guru penggerak harus mandiri dalam melaksanakan semua tugas dan bertanggung jawab terhadap tupoksi guru. Gur harus mampu melakukan kolaborasi dengan rekan-rekan guru lainnya atau teman sejawat dalam mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila. Guru penggerak merupakan guru-guru pilihan yang tergerak hatinya untuk ikut serta dalam memajukan pendidikan, dan kemudian mau tergerak, bergerak dan menggerak menggerakkan komunitas praktisi yang berimbas pada seluruh ekosistem satuan pendidikan. Selain itu, guru penggerak mampu menjadi teladan dan Agen Transformasi Pendidikan. Mereka layaknya lilin yang membawa perubahan di masing-masing unit pendidikan baik dalam komunitas sekolah maupn wilayah sekitarnya 2. Apakah ada keterkaitan antara nilai dan peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara? jelaskan! Nilai dan Peran Guru Penggerak ada keterkaikatan dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara. Dalam pemikiran filosofi KHD, hal yang paling penting dalam pendidikan adalah melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid atau guru menghamba pada murid. Makna atau arti menghamba adalah kita pendidik melaksanakan pembelajaran dan mendidik peserta didik karena merupakan panggilan jiwa. Sebagai pendidik harus mampu memahami kebutuhan anak, kemauan anak, bakat dan minat anak. Kita sebagai pendidik jangan sampai bersikap egois dan memaksakan kehendak pada anak apalagi sampai melakukan kekerasan baik fisik maupun psikis yang berakibat anak menjadi takut, kurang percaya diri dan cenderung bersikap introfert. Ki Hadjar Dewantara mengibaratkan pendidik sebagai petani yang bertugas untuk merawat tanaman, Sebagai petani tentu tidak lupa memupuk agar tanaman tumbuh subur. Kita sebagai pendidik juga harus ikut serta menggali dan menumbuhkembangkan kompetensi peserta didik.Guru Penggerak sebagai agen perubahan ekosistem pendidikan yang berpijak pada pemikiran Kihadjar Dewantara yang memiliki tiga kata kunci yaitu sebagai penuntun, teladan dan merdeka belajar. Menurut Kihadjar Dewantara bahwa guru diharapkan memiliki ketrampilan mengajar, memiliki keunggulan dalam kolaborasi baik dengan peserta didik, teman sejawat, orang tua siswa serta mampu bersikap profesional dalam menjalankan tugas. Hal ini tercermin dari nilai-nilai guru penggerak 3. Ingat kembali refleksi diri Anda pada bagian Refleksi Terbimbing serta ilustrasi yang sudah Anda buat pada Demonstrasi Kontekstual (sebagai gambaran Anda). Apa strategi yang bisa Anda lakukan untuk mencapai nilai tersebut? Untuk mencapai nilai mandiri, inovaif, reflektif kolaboratif dan berpihak pada murid maka diperlukan strategi yang saya lakukan untuk mencapai nilai tersebut adalah meluruskan niat, semangat belajar, berkolaborasi dan berdiskusi dengan guru lain, selalu melakukan inovasi, mengikuti bimtek dalam mengembangkan pembelajaran dalam rangka meningkatkan diri. 4.Siapa saja pihak yang dapat membantu Anda dalam mencapai gambaran diri Anda di demonstrasi kontekstual tersebut? Seperti apa perannya? Pihak yang dapat membantu saya dalam mencapai nilai dan peran guru penggerak yaitu keluarga, kepala sekolah, rekan sejawat dan peserta didik. Bagi saya keluarga mempunyai peran yang sangat penting, karena suami sangat mendukung saya dalam mengikuti calon guru penggerak, mendukung dan memfasilitasi kebutuhan secara moril dan materiil. Disekolah tentu sebagai orang yang dituakan adalah kepala sekolah yang memiliki peran yang sangat penting untuk mewujudkan nilai-nilai dan peran guru penggerak, tanpa adanya dukungan Kepala Sekolah nilai dan peran tidak dapat dilaksanakan. Rekan sejawat sangat dibutuhakan oleh guru penggrerak dalam rangka melakukan kolaborasi dan kerjasama dengan rekan sejawat untuk menghasilkan pembelajaran yang inovatif dan mewujudkan profil pelajar pancasila yang beriman dan bertawa keada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, gotong royong, kreatif dan bernalar kritis maka nilai dan peran guru penggerak akan maksimal. Selain itu peran murid sangat penting karena sebagai center atau pusatnya pendidiikan. Murid sebagai subyek pendidikan yang kita bangun untuk bernalar kritis kreatif mandiri gotong royong dan berakhlak mulia yang sesuai nilai-nilai profil pelajar pancasaila Wa’alaikum Salaam Warahmatullahi Wabarakaatuh

  Pembelajaran Berdiferensiasi Produk Pada Mapel Seni Rupa Kelas 4 B SDN Sendangmulyo 02 Korsatpen Tembalang Kota Semarang   A.     PENG...