Senin, 07 Februari 2022

MULAI DARI DIRI MODUL 2.1 GURU PENGGERAK


 

1. Ceritakan pengalaman anda yang berkesan pada saat melakukan pembelajaran dikelas !

 

Mulai Tahun 2004 mendapatkan tugas dan amanah untuk mengajar sebagai guru kelas meskipun sebelumnya pada tahun 2002 mengajar sebagai guru mata pelajaran

Pengalaman yang menarik yang saya temukan adalah saya menemukan siswa dengan bakat dan karakter yang berbeda, sehingga memacu saya untuk mengembangkan pembelajaran yang variatif sehingga sesuai bakat dan minat siswa. Mengenalkan pembelajaran yang menarik kepada mereka sehingga menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Suatu ketika saya memberikan tugas yang sama dengan model berkelompok, namun hasilnya siswa yang aktif nilaianya tinggi sedangkan yang pasif nilainya kurang bagus, sehingga dari pengalaman tersebut memberikan pelajaran kepada saya bahwa kita harus memberikan tugas yang berbeda untuk masing- masing kelompok

2. apa yang anda ketahui tentang pembelajaran berdiferensiasi?

Setiap peserta didik memiliki bakat dan minat yang berbeda, sehingga kebutuhan juga berbeda-beda. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan prosespembelajaran dikelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu. Pembelajaran berdiferensiasi memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan kebutuhannya, karena masing-masing peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga sudah seharusnya mendapat perlakuan yang berbeda. Dalam pembelajaran berdiferensiasi harus mengambil tindakan yang adil terhadap perbedaan karakter murid

Guru harus dapat menentukan strategi agar pembelajaran dapat bermakna bagi murid dalam kelas yang beragam. Dan juga guru harus memahami bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya dapat memaksimalkan murid, namun juga memberikan kesempatan kepada murid untuk mempelajari berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting, mislanya nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai makna baru dari kesuksesan, kekuatan diri, kesempatan setara, kemerdekaan belajar dan berbagai nilai akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara holistik

3. Setelah menyaksikan video diatas, menurut anda bagaimana menurut anda bagaimana pembelajaran dirancang dilaksanakan dan dievaluasi ?

https://youtu.be/M-UJ8aQaDvA 

 Pembelajaran seharusnya dirancang oleh guru adalah Guru harus memahami bakat atau kekuatan dalam diri tiap murid, guru harus melakasanakan pembelajaran sesuai kebutuhan murid, guru tidak boleh membeda-bedakan murid yang satu dengan yang lain. 

Pembelajaran dilaksanakan saat  pembelajaran, guru mengarahkan murid untuk berkelompok dan tiap murid yang memiliki kemampuan, suku, agama, sifat yang sama harus disebar pada tiap kelompok agar tiap murid belajar untuk menerima tiap perbedaan dan saling menghormati, guru harus membuat strategi pembelajaran kepada murid yang beragam.

Dalam melakukan evaluasi guru melakukan refleksi setiap melakukan pembelajaran untuk memperbaiki tiap strategi, media, dan komunikasi saat melakukan pembelajaran kepada murid yang beragam pada tiap kelas.

4. Yang ingin saya ketahui lebih lanjut tentang pembelajaran berdiferensiasi adalah sebagai berikut :

1. Langkah-langkah melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi

2. Contoh nyata penerapan  pembelajaran berdiferensiasi

3. Upaya mengatasi permasalahan yang dihadapi saat penerapan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah;

4. Strategi menentukan proses pembelajaran berdiferensiasi;

5. Upaya mengetahui apakah pembelajaran yang telah dilakukan merupakan pembelajaran berdiferensiasi atau belum

 

 

 


 

Kamis, 27 Januari 2022

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF MODUL 1.4.a.10.2 GURU PENGGERAK



A. LATAR BELAKANG


        Sekolah impian adalah sekolah yang mampu menciptakan kenyamanan dan memberikan kemerdekaan untuk hidup dan berkembang bagi peserta didik sesuai kodratnya. Sekolah tersebut terhindar dari segala macam bentuk penindasan, bulliying, kekerasan dan pemaksaan terhadap warga sekolah khususnya peserta didik. Sekolah yang dapat menciptakan suasana yang penuh dengan kehamonisan dan pembiasaan yang positif

        Sekolah berusaha menciptakan iklim pendidikan yang mampu membiasakan setiap warganya khususnya peserta didik melakukan budaya atau kebiasaan yang positif. Budaya yang mengakar kuat dan menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan secara kontinyu dan sadar oleh setiap warga sekolah. Semua pihak harus terlibat dalam pembiasaan positif tersebut. Pembiasaan positif yang merupakan budaya positif akan menjadi budaya sekolah.

        Budaya yang dipegang teguh oleh seluruh warga sekolah dan menjadi kekhasan dari sekolah tersebut. Budaya tersebut harus terintegrasi dalam seluruh kegiatan sekolah, baik dalam pra pembelajaran, proses pembelajaran ataupun di luar kelas seperti dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pertanyaannya adalah bagaimana budaya positif dapat tumbuh dan tertanam dalam proses pembelajaran, bagaimana budaya positif dapat terbiasa dilakukan dalam kegiatan ekastrakurikuler. Harapannya jika budaya positif mengakar dalam diri setiap peserta didik, maka profil pelajar Pancasila akan tercipta.

        Pendidikan adalah sebuah tuntunan dalam hidup dan tumbuh kembang anak. Setiap anak memiliki kekuatan dirinya sendiri, memiliki pengalaman dan kekayaan. Pendidikan haruslah membimbing dan menguatkan apa yang ada di dalam diri setiap anak agar dapat memperbaiki tingkah lakunya, cara hidupnya dan pertumbuhannya. Dalam proses menuntun, anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang unik.

 Guru sebagai pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaan dalam belajar. Guru diharapkan memiliki nilai-nilai positif yang dibutuhkan untuk membentuk karakter pelajar Pancasila dengan memberi contoh dan melakukan pembiasaan yang konsisten di sekolah. Pengembangan budaya positif dapat menumbuhkan motivasi instrinsik dalam diri anak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta akhlak mulia.

       Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan asumsi dasar yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan diyakini di sekolah. Budaya positif tersebut berisi kebiasaan-kebiasaan yang sudah disepakati bersama dan dijalankan dalam waktu yang lama dengan memperhatikan kodrat anak dalam hal ini kodrat alam dan kodrat zaman serta berpihak pada anak. Beberapa nilai dari keyakinan kelas yang disepakati antara lain saling menghormati  contohnya Berdoa bersama sebelum dan sesudah pelajaran, Menghormati bapak ibu guru dan menyayangi teman, Menjaga kebersihan kelas dan lingkungan kelas, Datang tepat waktu, Siap melaksanakan 5 S ( Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun ), Melaksanakan tugas disekolah dan dirumah dengan penuh tanggungjawab, Menjaga kelestarian lingkungan sekolah, Melaksanakan Apel pagi setiap hari dengan hikmad, Melaksanakan Sholat dhuha setiap hari jumat, Melakukan pengolahan sampah setiap jumat dan jumat bersih

        Pengembangan budaya positif yang dilakukan dengan baik pada murid diharapkan akan berdampak pada terwujudnya merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila yakni: Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Kreatif, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis dan Mandiri.

B. DESKRIPSI AKSI NYATA

1. Tujuan

    Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam menyusun laporan aksi nyata mengenai budaya positif ini memiliki beberapa tujuan diantaranya;

1.Menumbuhkan budaya positif dengan kesepakatan kelas dan keyakinan kelas

2. Menumbuhkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila pada diri peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

3. Mengintegrasikan dan membiasakan peserta didik untuk menanamkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila baik dilingkungan sekolah maupun luar sekolah 

2. Tolak Ukur

Tolak ukur budaya positif di sekolah yaitu :

1)    Peserta didik berkarakter Religius dan berakhlak mulia.

2)    Peserta didik berjiwa nasionalis dan cinta tanah air.

3)   Peserta didik terbiasa menerapkan budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan Santun dan Salaman ).

4)    peserta didik terlibat aktif, mandiri, kreatif dan bertanggung jawab dalam belajar.

5)    Peserta didik toleran dan saling menghormati.

6)    Peserta didik  peduli dalam kesehatan dan kebersihan lingkungan.

7) Mewujudkan siswa yang memiliki karakater nilai beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia sebagai bentuk budaya positif di sekolah

8) Perubahan perilaku budaya postif yang dilakukan murid dan seluruh warga sekolah 

9) Respon murid dalam menghadapi permasalahan baik disekolah maupun dilingkungan sekitar

10) Keberhasilan prestasin murid 

3. LINIMASA TINDAKAN YANG AKAN DILAKUKAN

Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan:

1. Sosialisasi kepada seluruh warga sekolah meliputi kepala sekolah, guru, peserta didik, dan tenaga kependidikan terkait disiplin positif, kesepakatan kelas dan profil pelajar Pancasila.

2. Guru menjelaskan tentang pengertian dan pentingnya kesepakatan kelas.

3. Guru memfasilatasi peserta didik untuk membuat kesepakatan kelas.

4. Kesepakatan kelas yang telah disepakati selanjutnya ditandatangani seluruh warga kelas dan dipasang di dinding kelas.

5. Sosialisasi kepada seluruh peserta didik baru tentang penumbuhan karakter 

6. Menumbuhkan, menanamkan dan membiasakan nilai-nilai profil pelajar pancasila dan kegiatan ekstrakurikuler.

7. Mendokumentasikan setiap kegiatan ekstrakurikuler yang menumbuhkan, mencerminkan dan membiasakan nilai-nilai 

Strategi dalam pelaksanaannya :

Membuat perencanaan

Direncanakan akan dimulai pada semester genap Tahun Pelajaran 2021/2022 (Januari 2022)

Proses pelaksanaannya

•         Adapun rincian dari tindakan aksi nyata yang dilakukan adalah:

1. Pekan ke-1: Meminta izin dan dukungan kepada kepala sekolah terkait aksi  nyata yang akan dilakukan

2. Pekan ke-2: Mensosialisasikan kepada rekan-rekan guru dan peserta didik tentang kegiatan aksi nyata (Video pengimbasan  filosofi Ki Hajar Dewantara dan Budaya Positif dapat dilihat di link berikut : 

3. Pekan ke-3: Memfasilitasi peserta didik  dalam menerapkan budaya positif dan Filosofi Ki Hajar Dewantara di kelas dengan membuat kesepakatan terkait  keyakinan kelas dan hal-hal positif lainnya

Refleksi 

Apabila terjadi kendala selama penerapan perubahan segera mungkin diselesaikan, apakah perlu dikaji ulang.

4. DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN 

Dukungan yang dibutuhkan dalam Aksi Nyata dan Pengimbasan Budaya Positif dalam Program Guru Penggerak ini adalah semua asset pendukung di luar diri saya, yaitu;

1. Kepala Sekolah dan Guru serta Karyawan 

2. Orang tua di rumah dalam membiasakan budaya positif.

3. Komite dan semua Stakeholder yang saling mendukung

4. Seluruh warga sekolah berkolaborasi, bergotong royong dan bergerak bersinergis dalam menciptakan serta membiasakan budaya positif di sekolah.

Cara saya mendapatkan dukungan adalah :

Meminta izin dan dukungan kepada kepala sekolah terkait aksi nyata dan program yang akan dilakukan

Mensosialisasikan kepada rekan Guru dan peserta didik. Menyampaikan perubahan yang ingin dicapai, bersama-sama dan bekerjasama antar semua elemen sekolah untuk mewujudkannya.

Menerapkan keyakinan kelas di kelas masing-masing , sehingga seluruh pendidik dan peserta didik memulai dari diri mereka untuk melakukan perubahan.

Bersama-sama merefleksi dan mengevaluasi untuk perbaikan

C.HASIL AKSI NYATA

Adapun hasil aksi nyata dari kegiatan tersebut adalah:

1. Peserta didik terbiasa menerapkan budaya 6 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan Santun dan Salaman )

2. Peserta didik terbiasa menyanyikan Lagu Indonesia Raya sebelum KBM dimulai, sebagai bentuk menanamkan cinta tanah air dan jiwa nasionalisme dan membaca Asmaul Husna untuk menanamkan jiwa religius dan berakhlak mulia

3. Peserta didik secara sadar berusaha mematuhi keyakinan kelas yang telah disepakati

4. Guru memahami tentang budaya positif dan berusaha menerapkan di kelas masing-masing

5. Peserta didik  mulai melakukan budaya positif

6. Pembelajaran menyenangkan dan berpihak pada murid.


            Aksi nyata ini dilakukan sebagai langkah awal untuk  menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan pada peserta didik sehingga menjadi sebuah pembiasaan dan akhirnya menjadi budaya positif bukan hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Foto 1 : Pengimbasan Budaya Positif dan Filososfi Pemikiran KHD kepada Rekan Guru di sekolah

Foto 2 : Budaya Positif siswa mencuci tangan sebelum masuk ke lingkungan sekolah



Foto 3 : Budaya Positif pembiasaan 6 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun dan Salaman)


Foto 4 : Budaya Positif Pembiasaan menyanyikan Lagu Indonesia Raya untuk menanamkan cinta tanah air dan jiwa nasionalisme.





Foto 5 : Budaya Positif Pembiasaan pembacaan Asmaul husna untuk menanamkan jiwa religius dan akhlak mulia




Foto 6 : Budaya Positif Penyusunan Kesepakatan Keyakinan Kelas



Foto 7 : Budaya Positif pembelajaran di kelas dengan berpusat dan berpihak pada murid



Foto 8 : Budaya Positif melaksanakan sholat dhuhur dan dhuha setiap jumat secara berjamaah 





Baca juga : https://sriwahyuningsih81.blogspot.com/2021/11/visi-guru-penggerak.html

RENCANA PERBAIKAN DI MASA MENDATANG

1. Guru penggerak harus terus berupaya menggerakkan rekan-rekan guru untuk menerapkan posisi kontrol yang tepat dalam menumbuhkan motivasi intrinsik peserta didik dan menciptakan budaya positif di sekolah serta terus membangun kolaborasi demi terwujudnya budaya positif di sekolah sehingga terlahir peserta didik sesuai profil pelajar Pancasila.

2. Guru penggerak harus terus berinovasi dan berkreasi dalam melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid dengan berusaha mengembangkan bakat dan minat peserta didik.

Saksikan sosialisasi Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Budaya Positif Guru Penggerak



Rabu, 01 Desember 2021

VISI GURU PENGGERAK

Modul 1.3 Visi Guru Penggerak Visi: Mengelola Perubahan yang Positif Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Mungkin saja, sebagian guru juga menuliskan mimpi itu pada gambaran visinya. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan. Perlu perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Inilah salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Visi membantu kita untuk melihat kondisi saat ini sebagai garis “start” dan membayangkan garis “finish” seperti apa yang ingin dicapai. Ini bagaikan seorang pelari yang perlu mengetahui garis “start” dan garis “finish” bahkan sebelum ia benar-benar berlari melintasi jalur lari tersebut. Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah. Budaya sekolah berarti merujuk pada kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan di sekolah. Kebiasaan ini dapat berupa sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi. Hal ini berarti butuh partisipasi dari semua warga sekolah. Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat bertahap. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, guru hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di dalam pengaruhnya untuk menjalani proses perubahan ini bersama-sama. Hal ini perlu dilakukan dengan niatan belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam modul ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita impikan. Dalam sebuah video di Youtube, Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan. Dalam video di Youtube tersebut, Cooperider juga menceritakan bahwa pendapatnya ini sejalan dengan pendapat Peter Drucker, seorang Begawan dalam dunia kepemimpinan dan manajemen. Menurut Drucker, kepemimpinan dan manajemen adalah keabadian. Oleh sebab itu, seorang pemimpin bertugas menyelaraskan kekuatan yang dimiliki organisasi. Caranya adalah dengan mengupayakan agar kelemahan suatu sistem dalam organisasi menjadi tidak relevan, karena semua aspek dalam organisasi fokus pada penyelarasan kekuatan. Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah. Inilah langkah-langkah yang perlu kita ikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang kita telah impikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama. Di tahap ini, kita merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran. Pada tahapan ini, kita mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi. Pada tahapan ini, kita dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana. Di tahapan ini, kita dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi. Di bagian ini, kita memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan. Semoga semua visi yang telah kita susun memperkaya “persenjataan” dalam meniti langkah-langkah kecil hingga terwujudnya visi kita mengenai murid. Pada awal penerapannya, mungkin kita akan merasakan kejanggalan atau meragukan keberhasilannya. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba dan menikmati kurva belajarnya. Kurva belajar yang kita akan alami mirip seperti seekor anak burung yang belajar terbang. Pada saat pertama kali terbang, jalur terbang anak burung tidak akan langsung ke atas, tapi akan ke bawah dahulu kemudian meliuk ke atas sebagaimana terlihat pada gambar di atas. Dengan merujuk pada kurva belajar ini, maka marilah terus percaya bahwa pendekatan positif akan membuahkan hasil yang lebih luar biasa. Ini adalah kebiasaan baru. Sumber : Modul CGP

  Pembelajaran Berdiferensiasi Produk Pada Mapel Seni Rupa Kelas 4 B SDN Sendangmulyo 02 Korsatpen Tembalang Kota Semarang   A.     PENG...