Minggu, 18 Desember 2022

 

Pembelajaran Berdiferensiasi Produk Pada Mapel Seni Rupa

Kelas 4 B SDN Sendangmulyo 02 Korsatpen Tembalang Kota Semarang


 

A.    PENGERTIAN PEMBELAJARAN DIFERENSIASI

Menurut Tomlinson (2001) Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik sebagai individu. Atau bisa dikatakan juga bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan dan mampu mengakomodir kebutuhan peserta didik untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik yang berbeda-beda.

Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang” peserta didik untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap peserta didik di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga peserta didiknya. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan peserta didik mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, peserta didik mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar peserta didiknya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif

B. KERAGAMAN ANAK DIKELAS

1. 1. Kesiapan Belajar

Tombol-tombol dalam equalizer mewakili beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. Dalam modul ini, kita akan mencoba membahas 6 dari beberapa contoh perspektif kontinum tersebut, dengan mengadaptasi alat yang disebut Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001).

Bersifat mendasar - Bersifat transformatif

Saat murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru, yang mungkin belum dikuasainya, mereka akan membutuhkan informasi pendukung yang jelas, sederhana, dan tidak bertele-tele untuk dapat memahami ide tersebut. Mereka juga akan perlu waktu untuk berlatih menerapkan ide-ide tersebut. Selain itu, mereka juga membutuhkan bahan-bahan materi dan tugas-tugas yang bersifat mendasar serta disajikan dengan cara yang membantu mereka membangun landasan pemahaman yang kuat. Sebaliknya, saat murid dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka kuasai dan pahami, tentunya mereka membutuhkan informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka perlu melihat bagaimana ide tersebut berhubungan dengan ide-ide lain untuk menciptakan pemikiran baru. Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan tugas yang lebih bersifat transformatif.

Konkret – Abstrak

Di lain kesempatan, guru mungkin dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di tingkatan perlu belajar secara konkret atau sudah siap bergerak mempelajari sesuatu yang lebih abstrak.

Sederhana – Kompleks

Beberapa murid mungkin perlu bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu, yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi pada satu waktu.

Terstruktur - Open Ended

Kadang-kadang murid perlu menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk mereka, di mana mereka tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di waktu lain murid mungkin siap menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka.

Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)

Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir, dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain, beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada yang lain.

Lambat – Cepat

Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari topik yang lain.

Perlu diingat bahwa kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan. Adapun tujuan melakukan identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013: 29).

2. 2. Minat Murid

Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.

Tomlinson (2001: 53), mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah sebagai berikut:

· membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar;

mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran; menggunakan keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan; meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

Minat sebenarnya dapat kita lihat dalam 2 perspektif. Yang pertama sebagai minat situasional. Dalam perspektif ini, minat merupakan keadaan psikologis yang dicirikan oleh peningkatan perhatian, upaya, dan pengaruh, yang dialami pada saat tertentu. Seorang anak bisa saja tertarik saat seorang gurunya berbicara tentang topik hewan, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai topik tentang hewan tersebut, karena gurunya berbicara dengan cara yang sangat menghibur, menarik dan menggunakan berbagai alat bantu visual. Yang kedua, minat juga dapat dilihat sebagai sebuah kecenderungan individu untuk terlibat dalam jangka waktu lama dengan objek atau topik tertentu. Minat ini disebut juga dengan minat individu. Seorang anak yang memang memiliki minat terhadap hewan, maka ia akan tetap tertarik untuk belajar tentang hewan meskipun mungkin saat itu guru yang mengajar sama sekali tidak membawakannya dengan cara yang menarik atau menghibur.

Karena minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran, maka memahami kedua perspektif tentang minat di atas akan membantu guru untuk dapat mempertimbangkan bagaimana ia dapat mempertahankan atau menarik minat murid-muridnya dalam belajar.

3. 3. Profil Belajar murid

Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.

Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur, dsb

Contohnya: mungkin ada anak yang tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu terang, dsb.

Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal. Preferensi gaya belajar.

o Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:

visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer ); auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik); kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb). Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences): visual-spasial, musical, bodily-kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logic-matematika.

Contoh cara-cara yang dapat dilakukan guru untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar murid

Guru dapat mengidentifikasi kebutuhan murid dengan berbagai cara. Berikut ini adalah beberapa contoh cara-cara yang dapat dilakukan guru untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar murid:

mengamati perilaku murid-murid mereka; mengidentifikasi pengetahuan awal yang dimiliki oleh murid terkait dengan topik yang akan dipelajari; melakukan penilaian untuk menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka saat ini, dan kemudian mencatat kebutuhan yang diungkapkan oleh informasi yang diperoleh dari proses penilaian tersebut; mendiskusikan kebutuhan murid dengan orang tua atau wali murid; mengamati murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas; bertanya atau mendiskusikan permasalahan dengan murid; membaca rapor murid dari kelas mereka sebelumnya untuk melihat komentar dari guru-guru sebelumnya atau melihat pencapaian murid sebelumnya; berbicara dengan guru murid sebelumnya; membandingkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan tingkat pengetahuan atau keterampilan yang ditunjukkan oleh murid saat ini; menggunakan berbagai penilaian penilaian diagnostik untuk memastikan bahwa murid telah berada dalam level yang sesuai; melakukan survey untuk mengetahui kebutuhan belajar murid; mereview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran mereka sendiri untuk mengetahui efektivitas pembelajaran mereka dll.

Pembelajaran berdifferensiasi telah dilaksanakan di SDN Sendangmulyo 02 kelas 4B untuk memenuhi kebutuhan siswa. Pada pembelajaran seni rupa tersebut kami melaksanakan pembelajaran berdifferensiasi produk yang disesuaikan dengan minat anak, sehingga kebutuhan murid terakomodir dengan baik dan peserta didik sangat antusias karena minat mereka tersalurkan melalui pembelajaran seni rupa. Peserta didik kelas 4B membuat karya caping hias, membatik kain dan batik celup untuk membuat taplak meja Umpan balik dan refleksi yang disampaikan peserta didik peserta didik merasa senang mengikuti pembelajaran yang menyenangkan, harapannya semoga pada pembelajaran berikutnya dilaksanakan dengan model pembelajaran berdifferensiasi

Selasa, 14 Juni 2022

AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID


 

AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

Oleh Sri Wahyuningsih,S.Pd

CPG Angkatan 4

Kota Semarang

 

 PERISTIWA (FACT)

Untuk meningkatkan kreativitas murid SDN Sendangmulyo 02 Tembalang Semarang, dengan melakukan kegiatan literasi dan kerajinan dengan nama program ( Propates) yang akan membawa dampak positif pada kegiatan pasca tes . Program tersebut dilakukan SDN Sendangmulyo 02 merupakan sekolah yang negeri yang ada di pinggiran kota Semarang. Meski demikian motivasi siswa dan para orangtua sera bapak ibu guru merespon baik terkait program yang akan dilaksanakan Proram tersebut adalah Gerakan Pasca Tes dengan kegiatan positif yang variatif. Kegiatan tersebuat adalah Literasi, Membuat Ketrampilan, Market Day dan Senam Bersama

Program literasi dan program kreativitas adalah merupakan keterampilan penting yang harus di miliki siswa. Sebagian proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi ,kemampuan literasi meliputi program literasi dan program kreativitas dan kerajinan sehingga program ini sesuai dengan salah satu karakteristik dari 7 lingkungan yang menumbuh kembangkan kepemimpinan murid yaitu lingkungan yang melatih keterampilan yang di butuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik dan non akademik.

Yang dilakukan pada aksi nyata berikut alasan mengapa melaksanakan aksi nyata?

Aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid di maksudkan untuk mewujudkan  kepemimpinan murid, program ini di lakukan dengan harapan siswa siswi bisa menumbuhkan sikap mandiri,kreatif dan inovatif dalam  mengekspresikan dirinya dan menghargai seni dan budaya nasional dan bisa mengembangkan potensi atau bakat yang di milikinya.

Aksi nyata ini di lakukan untuk mewujudkan langkah pengelolaan program yang berdampak pada murid dengan berbasis pemetaan aset sekolah menggunakan model BAGJA dan MELR Yang dilakukan guna memastikan sebuah program yang berdampak pada murid. Sehingga bisa menjadi langkah konkrit keterlibatan sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah.

Selain itu alasan utama dibalik program ini adalah pada terwujudnya wellbeing siswa atau student wellbeing  dan perkembangan siswa secara holistik, siswa yang bahagia. dan juga memiliki nilai – nilai pribadi yang unggul, berbudaya serta memiliki karakter profil pelajar pancasila.

Tujuan Utama melaksanakan aksi nyata ini adalah sebagai berikut :

  • Membangun kesadaran siswa atas pentingnya membaca untuk mendukung pembelajaran yang efektif
  • Menumbuhkan kemampuan berprikir kritis dan kreatif
  • Menumbuhkan kreatifitas dan inovasi siswa
  • Menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa
  • Menjadikan kegiatan literasi sebagai budaya positif di sekolah
  • Melatih kemandirian siswa dalam memecahkan masalah 
  • Menumbuhkan budi pekerti dan kepribadian yang baik kepada siswa

Hasil Aksi Nyata yang di lakukan

 





 

Dengan terlaksananya program ini ,  maka program ini pada dasarnya di rancang untuk menjadi wadah berkreasi dan berinovasi bagi siswa siswi menumbuhkan keberanian untuk tampil  dan juga mengedukasi siswa akan penitingnya budaya literasi. Siswa-siswi perlu di perkenalkan betapa pentingnya kegiatan literasi yang dilakukan sehingga sebagai generasi muda penerus bangsa akan selalu menjunjung budaya yang mampu melestarikan budaya membaca. Di perlukan sebuah pembiasaan yang menjadi sebuah budaya. Dengan pelaksanan kegiatan  yang rutin dan berkelajutan dari program ini maka dampak pada murid dalam hal meningkatkan minat dan bakat serta jiwa kepemimpinan dan juga kepedulian akan literasi akan membuahkan hasil.

Hasil aksi nyata di SDN Sendangmulyo 02 Tembalang Semarang ini menunjukan bahwa ada perkembangan dari waktu ke waktu mulai dari hanya membaca 15 menit sebelum memulai proses belajar mengajar yang di awasi oleh wali kelas sehingga menjadi budaya bagi murid – murid ketika jam literasi sudah di mulai maka dengan sendirinya melakukan aktivitas tersebut. Selain itu kegiatan pasca tes dengan membangun program kerajinan . Satu hal yang menjadi saya bangga sebagai guru kelas Sekolah Dasar peserta didik mampu meningkatkan kemampuan pengetahuan akan kosa kata, membuat otak mereka bisa bekerja secara optimal, menambah wawasan, mempertajam diri dalam menangkap informasi dari sumber bacaan salah satu aksi nyata nya yaitu memiliki jiwa kepemimpinan serta meningkatkan kreativitas dan kreasi siswa karena mampu menciptkan seorang pemimpin yang mandiri dan kreatif

Kegiatan literasi dan Program Kerajinan di atas menunjukan bahwa kegiatan literasi tidak semata – mata di lakukan di dalam ruangan kelas saja akan tetapi bisa juga di lakukan di tempat lain yaitu dengan menggunakan perpustakaan dengan di dampingi oleh wali kelas  diberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih sesuai dengan bakat dan minat peserta didik namun murid dapat memanfaatkan kekuatan atau asset  yang dimiliki sekolah dengan demikian apapun yang menjadi minat dan bakat peserta didik dapat di salurkan dengan baik dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah demi peningkatan potensi peserta didik. Disamping itu murid juga melakukan kegiatan kerajinan yang dapat menggali potensi dan kreativitas siswa.






 

B.PERASAAN (FEELING)

Perasaan saat merencanakan aksi nyata ini program yang berdampak pada murid ini adalah  merasa tertantang karena program ini harus menekankan pada aspek dampak langsung pada diri siswa misalnya kepedulian aspek lain, literasi, keimanan,  kedispilinan,dan aspek lainnya yaitu kemampuan kepemimpinan bisa menjadi bekal siswa untuk kehidupan yang lebih baik sebagai individu maupun anggota masyarakat dan meningkatkan kreativitas dan kemandirian siswa

Perasaan saat program ini terlaksana perasaan bahagia dan juga optimis dengan pencapaian program dengan pencapaian program yang sudah berjalan, terlaksananya program ini tidak terlepas dari kolaborasi semua pemangku kepentingan terutama siswa yang sangat antusias terlibat dalam program literasi dan kreatifitas kerajinan. wali kelas yang mengkoordinir kegiatan. Saya pun bertambah antusias terlibat dalam program literasi baik dari murid dan seluruh pemangku kepentingan di sekolah. Dengan respon yang baik dari warga sekolah terutama murid membuat saya ingin terus terlibat dalam pengelolaan program ini agar lebih baik lagi ke depannya dan dengan harapan dapat terus berkelanjutan.

 


 










 

C.PEMBELAJARAN ( FINDING) YANG DI DAPAT DARI PELAKSANAAN AKSI NYATA.

Pembelajaran yang di dapatkan dari aksi nyata adalah terwujudnya kepemimpinan murid dalam literasi dan Program Kerajinan untuk peningkatan minat bakat  dan kreativitas siswa serta jiwa kepemimpinan, terwujudnya  karakter siswa yang memiliki pengetahuan dari sumber – sumber informasi yang diperoleh dan menjadi siswa yang berani tampil dan mengekspresikan bakat maupun potensinya serta mampu meningkatkan kreativitasnya untuk menyeraskan otak kanan dan otak kiri murid, pada akhirnya besar harapan saya bahwa program ini akan bisa mewujudkan profil  pelajar pancasila.

Dari aksi nyata ini saya mendapatkan banyak pelajaran penting, yaitu bagiamana saya menyusun dan mengelola sebuah program yang berdampak pada murid dengan pemetaan aset model BAGJA. Selain itu saya menyadari pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk suksesnya program ini. Saya juga belajar bahwa peran guru tidak terbatas pada pembelajaran di dalam kelas saja namun harus peduli dan ikut terlibat dalam mengelola program yang berdampak pada murid .

D. PENERAPAN KEDEPAN (FUTURE) RENCANA PERBAIKAN UNTUK PELKASANAAN DI MASA DEPAN

Recana perbaikan ke depan yaitu  lebih mengaktifkan kembali kegiatan intrakurikuler di lingkungan sekolah untuk memberikan bimbingan dan menjadi wadah pengembangan minat dan bakat anak selain itu kedepannya perlu pemberian apresiasi kepada siswa yang memiliki prestasi akademik sebagai bentuk dukungan untuk menambah semangat anak menampilkan kreatifitas dalam melakukan literasi. Selain itu perlu peningkatan kolaborasi guru ,siswa dalam hal kegiatan literasi dan program kerajian siswa butuh pendampingan dan bimbingan dari guru kelas pada saat melakukan kegiatan literasi dan program kerajinan agar program dapat berjalan sesuai apayang kita inginkan.

 

 

 

Jumat, 22 April 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 TENTANG PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBEAJARAN

                                                             




                                                        Oleh Sri Wahyuningsih

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

 

 1. Pengaruh Filosofi Patrap Triloka Ki Hajar Dewantara terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran

Ki Hajar Dewantara mempunyai pemikiran  terkait dengan pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengemukakan salah peran mulia guru adalah  sebagai penuntun. Guru berperan menuntun segala kekuatan kodrat zaman dan kodrat alam yang ada pada diri anak sebagai manusia individu atau bagian dari masyarakat untuk mencapai kebahagian hakiki atau setinggi-tingginya untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan

Jika di sesuaikan dengan konsep guru penggerak penuntun ini bermakna pemimpin pembelajaran. Pemimpin yang mampu mengelola pembelajaran yang berpihak kepada murid yang menciptakan murid sebagai subjek dan center dari ilmu pengetahuan. Guru hanya mengarahkan bagaimana murid berkembang sesuai karakter, keunikkan dan potensi yang dimilikinya masing-masing murid

Proses pengarahan dan menuntun yang dilakukan guru sangat berkaitan  dengan  salah satu filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu filosofi Patrap Triloka. Tiga prinsip yang mendasari seorang guru untuk melakukan sebuah proses menuntun yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. 

Ing Ngarsa Sung Tuladha  yang memiliki makna filosofi dengan memantapkan kita, untuk mampu menjadi teladan atau contoh yang  positif kepada anak didik ketika kita berada di depan mereka, filosofi Ing Madya Mangun Karsa memiliki makna menyemangati kita ketika berada di tengah-tengah mereka untuk menjadi motivator yang mampu membangkitkan kemauan dan membangun keanekaragaman potensi anak atau peserta didik untuk berkembang dan maju menjadi pusat pembelajaran, filosofi patrap triloka yang ketiga yaitu Tut Wuri Handayani yang memiliki makna  penting ketika posisi guru berada di belakang maka pendidik mampu mengarahkan, menyemangati dan mendorong anak didik untuk mau belajar serta meningkatkan potensinya. Tiga prinsip kepemimpinan yang banyak diterapkan dalam proses pembelajaran.  

Patrap triloka ini memberikan pengaruh besar kepada kita sebagai pendidik mampu memposisikan diri baik di depan, di tengah atau di belakang untuk kemajuan peserta didik dan menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid.Filosofi patrap triloka mendorong guru untuk tidak lagi menjadi sumber ilmu pengetahuan dan subjek pembelajaran satu-satunya akan tetapi ada potensi peserta didik yang harus difasilitasi juga untuk menjadi sumber ilmu pengetahuan dan subjek pembelajaran. Dengan Filosofi pratap triloka mendorong guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. Pengambilan keputusan yang mampu memerdekakan murid seutuhnya dan menciptakan pembelajaran yang berpusat dan berpihak pada murid. Pengambilan keputusan yang secara sadar dan tidak terpengaruh oleh pihak manapun, sehingga akan menciptakan suasana pembelajaran yang membuat murid nyaman untuk berkomunikasi dengan guru sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang mengedapankan kepentingan murid. 

2. Pengaruh nilai-nilai yang tertanam dalam diri terhadap pengambilan suatu keputusan

Setiap guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. 

Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh  ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilemma etika (benar versus benar) atau berada  pada   bujukan moral yaitu dalam dua pilihan antara benar versus salah  yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar. 

Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh yang harus kita laksanakan. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan kebijakan universal dan keberpihakan pada peserta didik dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasikan kompetensi sosial emosional yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berinteraksi sosial dalam mengambil keputusan dengan kesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang bakal terjadi.

3. Kegiatan terbimbing yang dilakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil dan pengambilan keputusan yang efektif.

Coaching menjadi salah satu proses yang dilakukan guru untuk membuat keputusan yang tepat dan efektif dalam menggali potensi peserta didik. Coaching  membantu guru menjalankan proses menuntun murid mendapatkan kemerdekaan belajar dan meningkatkan potensi yang dimilikinya. Eksplorasi potensi murid terlaksana dengan melalui dalam proses coaching.Choaching akan dilakukan dengan model TIRTA, yaitu dengan mengacu pada tujuan, identifikasi masalah, rencana aksi serta tanggung jawab. Chooching yang saya lakukan dengan rekan sejawat atau guru yang memiliki masalah terkait masalah pembelajaran disekolah

 

Pengambilan keputusan yang tepat dengan resiko yang sekecil-kecilnya terlaksana dengan coaching. Pertanyaan-pertanyaan reflektif muncul dalam proses coaching. Pertanyaan tersebut menstimulus kerja otak peserta didik untuk bekerja secara maksimal dan melakukan metakognisi untuk menentukan sebuah keputusan yang diambil dari hasil penggalian potensi mereka. Keputusan sendiri yang tepat dan benar sebagai solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Ada peran guru sebagai coach untuk untuk membangkitkan dan memunculkan semaksimal mungkin potensi peserta didik untuk mampu menyelesaikan masalah sendiri apalagi masalah yang termasuk dilemma etika dan bujukan moral. Pendidik sudah sepatutnya menyisihkan waktunya untuk menjalankan proses coaching untuk menciptakan kondisi pendidikan yang berpihak pada murid dan mengutamakan kepentingan peserta didik. Kondisi yang menstimulus murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing.

4. Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan peserta didik dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilemma etika ataukah bujukan moral. 

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang focus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. 

Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.

Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

5. Dampak pengambilan keputusan yang tepat terhadap terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman 

Llingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman salah satunya terciptanya dari pengambilan keputusan yang tepat. Proses yang bisa dilakukan untuk mendapatkan keputusan yang tepat adalah dengan berpedoman pada 4 paradigma ( Kesetiaan Vs Loyalitas, Keadilan Vs Rasa Kasihan, Individu Vs Masyarakat dan Jangka Pendek Vs Jangka Panjang ) , 3 prinsip pengambilan keputusan ( End based thingking, Role based thingking dan care based thingking ) dan  dengan melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Sembilan ( 9 ) langkah pengambilan dan pengujian keputusan tersebut memberikan keyakinan kepada kita bahwa keputusan yang kita ambil mampu mengakomodir seluruh kepentingan dan harapan berbagai pihak yang dilibatkan dalam kasus atau permasalahan yang dihadapi, sehingga dengan keputusan yang tepat tersebut dapat menciptakan lingkungan yang kondusif, positif, nyaman dan aman.

 

6. Kesulitan-kesulitan sulit yang dihadapi dalam melaksanakan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika serta masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah

Sebagai makhluk sosial yang selalu melakukan interaksi dan komunikasi  dengan lingkungan yang ada di sekitar kita. Kita pasti pernah dan bahkan sering dihadapkan dengan situasi yang menuntut diri kita dalam mengambil suatu keputusan yang tepat. Situasi yang bisa termasuk dilemma etika atau bujukan moral. Dalam mengambil keputusan yang tepat kita sering dihadapkan dengan berbagai kesulitan di antara:

a. Keterbatasan pengetahuan dan pengalaman menjadi salah satu kendala pribadi yang sering muncul.Terkadang pengalaman  sebelumnya akan mempengaruhi pengambilan keputusan di masa selanjutnya.

b. Kehawatiran akan keputusan yang tidak tepat menjadi kesulitan tersendiri dalam pengambilan keputusan serta rasa kasihan terhadap seseorang yang kadang membua kita dilema dalam mengambil keputusan.

c. Dalam pengambilan keputusan harus  mengindentifikasi fakta dan informasi awal yang akan mengasilkan  ketepatan keputusan yang diambil.

d. Perbedaan sudut pandang setiap orang dalam mengambil keputusan suatu kasus yang sama menyebabkan sulitnya mendapatkan kesepakatan keputusan.

Keempat kesulitan yang dipaparkan di atas akan memberikan pengaruh terhadap perubahan paradigma yang berkembang dan dipegang oleh pihak yang ada di lingkungan institusi tempat saya berkerja.

 

7. Pengaruh pengambilan keputusan terhadap pengajaran yang memerdekakan murid-murid

 

Program guru penggerak salah satu edisi yang bertujuan untuk memerdekakan anak didik kita. Ada banyak proses yang dilakukan dalam rangka memerdekakan anak didik. Salah satunya adalah :

a. Dengan keputusan yang tepat ketika kita dihadapkan dengan situasi atau kasus yang membutuhkan penyelesaian yang berpihak pada murid dan mengangkat kepentingan peserta didik.

b. Keputusan yang diambil kita sebagai bentuk proses menuntun peserta didik didik untuk merdeka, berkembang dan hidup sesuai kodrat alam dan zamannya.

c.  Kita bisa melakukan proses coaching kepada kita ketika mereka dihadapkan dengan kondisi yang berhubungan dengan dilemma etika dan bujukan moral.

d. Menemukan potensi yang mereka miliki untuk menyelesaikan segala masalah dilemma etika dan bujukan moral untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sehingga keputusan yang diambil tanpa paksaan dan interpretasi dari pihak mana pun. Dalam mengambil keputusan melalui proses yang memerdekakan mereka. 

 

8. Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya

 

Masa depan anak didik akan tercipta dari tangan pendidik yang peduli, kreatif dan inovatif. Maju dan mundurnya suatu generasi Bangsa akan bergantung pada pendidik yang selalu memusatkan pikiran, enegi dan langkahnya untuk kemajuan peserta didik. Peserta didik itu memiliki karakter yang unik dan berbeda-beda. Peserta didik membawa keanekaragaman potensi yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang ada pada peserta didik memunculkan permasalahan yang berbeda-beda pula. Dari sinilah peran Pendidik harus belajar mampu menuntun anak untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada mereka salah satunya dengan proses coaching, menetukan suatu keputusan jitu untuk meningkatkan potensi mereka untuk berkembang dan hidup sesuai dengan kodratnya masing-masing. 

 

Keputusan yang diambil pendidik sebagai pemimpin pembelajaran dalam menyelesaikan permasalahan peserta didik akan menentukan langkah hidup mereka selanjutnya jika tepat akan lebih menjadikan mereka menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, matang dan dewasa. Jika kurang tepat atau tidak tepat pendidik sebagai pemimpin pembelajaran mampu meminimalisir kemungkinan resiko dari ketidaktepatan keputusan tersebut, sehingga anak didik pun akan tetap tumbuh sebagai insan yang rasional, cermat dan teliti dalam mengambil keputusan ketika dihadapkan dengan persoalan yang  mereka hadapi

 

9. Simpulan pembelajaran modul 3.1 dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya

Pengambilan keputusan ialah proses untuk memilih suatu keputusan dari berbagai pilihan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.  Pengambilan keputusan ini memunculkan sikap hati-hati dalam  bertindak dalam mengambil satu keputusan dari berbagai kemungkinan. 

Proses yang dilakukan pendidik sebagai pemimpin pembelajaran untuk memantapkan keputusan tepat yang diambil sebagai buah dari nilai-nilai positif yang dipegang dan dijalannya. Nilai yang pegang teguh soyogyanya sejalan dengan nilai yang menjadikan peserta didik lebih siap hidup sebagai pribadi yang tangguh. Nilai-nilai tersebut seperti kreatif, inovatif, mandiri, mampu berkolaborasi dan senantiasa menciptakan suatu kondisi yang berpihak terhadap murid. Pemimpin pembelajaran pun haruslah mampu membangun hubungan sinergis yang menciptakan kondisi yang menjadikan nyaman untuk berkolaborasi dan bermitra dengan berbagai pihak terutama dengan peserta didik. Kolaborasi dan kemitraan yang tebangun setidaknya akan mendorong untuk mendapatkan suatu keputusan yang dapat memawakili harapan dan keinginan setiap pihak yang berada dalam lingkungan pendidikan.Pengambilan Keputusan salah satu langkah yang diambil pendidik sebagai pemimpin pembelajaran untuk memerdekakan anak untuk hidup sesuai potensi yang dimilikinya masing-masing tanpa merasa terbebani Hidup bahagia sesuai kodratnya baik sebagai insan pribadi maupun bagian dari masyarakat. Hal ini sesuai dengan filososi pemikiran Ki Hajar Dewantara. 

Kemerdekaan belajar yang diperoleh peserta didik tercipta jika setiap pendidik mampu menciptakan pembelajaran yang selalu memperhatikan dan mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta didik. Baik dari minat, profil dan kesiapan belajar mereka. Selain itu social emosonal pun ditumbuhkan sebagai upaya untuk menjadikan kondisi berkesadaran penuh dan focus dalam mengambil sebuah keputusan tepat yang dapat mengakomodir aspirasi peserta didik.  Usaha-usaha pendidik tersebut sebagai langkah untuk melejitkan potensi yang dimiliki peserta didik. Pendekatan Coaching menjadi salah satu usaha yang dilakukan guru. 

Coaching ini membantu peserta didik memecahkan masalah sendiri dengan berbagai potensi yang mereka miliki sendiri. Pendidik hanya menuntun dan mengarahkan mereka dengan pertanyaan-pertanyan efektif untuk mampu mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi peserta didik. Coaching ini pun dapat digunakan kepada teman sejawat, kepada seluruh warga sekolah sebagai upaya untuk menyelesaikan kondisi kurang ideal yang terjadi. Coaching ini adalah salah satu upaya menciptakan dan membiasakan budaya positif sekolah dan memaksimalkan komunitas praktisi yang ada di lingkungan sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Pembelajaran Berdiferensiasi Produk Pada Mapel Seni Rupa Kelas 4 B SDN Sendangmulyo 02 Korsatpen Tembalang Kota Semarang   A.     PENG...