Pembelajaran
Berdiferensiasi Produk Pada Mapel Seni Rupa
Kelas
4 B SDN Sendangmulyo 02 Korsatpen Tembalang Kota Semarang
A.
PENGERTIAN PEMBELAJARAN DIFERENSIASI
Menurut Tomlinson (2001)
Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses
pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik sebagai
individu. Atau bisa dikatakan juga bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran yang memberi keleluasaan dan mampu mengakomodir kebutuhan peserta
didik untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat,
dan profil belajar peserta didik yang berbeda-beda.
Namun demikian, pembelajaran
berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang
berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus
memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang
lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan
yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula
memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi
bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang
gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di
mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C
dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap
atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda
dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.
Pembelajaran berdiferensiasi
adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru
yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik. Keputusan-keputusan yang
dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang” peserta didik untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap peserta didik di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga peserta didiknya. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan peserta didik mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, peserta didik mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar peserta didiknya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif
B. KERAGAMAN
ANAK DIKELAS
1. 1. Kesiapan Belajar
Tombol-tombol dalam equalizer
mewakili beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan
tingkat kesiapan murid. Dalam modul ini, kita akan mencoba membahas 6 dari
beberapa contoh perspektif kontinum tersebut, dengan mengadaptasi alat yang
disebut Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001).
Bersifat mendasar - Bersifat transformatif
Saat murid dihadapkan pada
sebuah ide yang baru, yang mungkin belum dikuasainya, mereka akan membutuhkan
informasi pendukung yang jelas, sederhana, dan tidak bertele-tele untuk dapat
memahami ide tersebut. Mereka juga akan perlu waktu untuk berlatih menerapkan
ide-ide tersebut. Selain itu, mereka juga membutuhkan bahan-bahan materi dan
tugas-tugas yang bersifat mendasar serta disajikan dengan cara yang membantu
mereka membangun landasan pemahaman yang kuat. Sebaliknya, saat murid
dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka kuasai dan pahami, tentunya mereka
membutuhkan informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka perlu melihat
bagaimana ide tersebut berhubungan dengan ide-ide lain untuk menciptakan
pemikiran baru. Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan tugas yang lebih
bersifat transformatif.
Konkret – Abstrak
Di lain kesempatan, guru mungkin
dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di
tingkatan perlu belajar secara konkret atau sudah siap bergerak mempelajari
sesuatu yang lebih abstrak.
Sederhana – Kompleks
Beberapa murid mungkin perlu
bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu,
yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi pada satu waktu.
Terstruktur - Open Ended
Kadang-kadang murid perlu
menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk mereka, di mana mereka
tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di waktu lain
murid mungkin siap menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka.
Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)
Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir, dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain, beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada yang lain.
Lambat – Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan
yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui
materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid
yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk
mempelajari topik yang lain.
Perlu diingat bahwa kesiapan
belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih
kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki
murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.
Adapun tujuan melakukan identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid
berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk memodifikasi tingkat
kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi
kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013: 29).
2. 2. Minat Murid
Minat merupakan
suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi
atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.
Tomlinson (2001: 53), mengatakan
bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah
sebagai berikut:
· membantu murid menyadari bahwa
ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar;
mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran; menggunakan
keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide
atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan; meningkatkan
motivasi murid untuk belajar.
Minat sebenarnya dapat kita
lihat dalam 2 perspektif. Yang pertama sebagai minat situasional. Dalam
perspektif ini, minat merupakan keadaan psikologis yang dicirikan oleh
peningkatan perhatian, upaya, dan pengaruh, yang dialami pada saat tertentu.
Seorang anak bisa saja tertarik saat seorang gurunya berbicara tentang topik
hewan, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai topik tentang hewan tersebut,
karena gurunya berbicara dengan cara yang sangat menghibur, menarik dan
menggunakan berbagai alat bantu visual. Yang kedua, minat juga dapat dilihat
sebagai sebuah kecenderungan individu untuk terlibat dalam jangka waktu lama
dengan objek atau topik tertentu. Minat ini disebut juga dengan minat individu.
Seorang anak yang memang memiliki minat terhadap hewan, maka ia akan tetap
tertarik untuk belajar tentang hewan meskipun mungkin saat itu guru yang
mengajar sama sekali tidak membawakannya dengan cara yang menarik atau
menghibur.
Karena minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran, maka memahami kedua perspektif tentang minat di atas akan membantu guru untuk dapat mempertimbangkan bagaimana ia dapat mempertahankan atau menarik minat murid-muridnya dalam belajar.
3. 3. Profil Belajar murid
Profil Belajar mengacu pada
cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari
mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil
belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara
natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara
tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar
kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri.
Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan
metode dan pendekatan mengajar mereka.
Profil belajar murid terkait
dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu
ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya
terstruktur/tidak terstruktur, dsb
Contohnya: mungkin ada anak yang
tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu
terang, dsb.
Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal -
impersonal. Preferensi gaya belajar.
o Gaya belajar adalah bagaimana
murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum
gaya belajar ada tiga, yaitu:
visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar,
menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer );
auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru,
membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan
musik); kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan
tubuh, kegiatan hands on, dsb). Preferensi berdasarkan kecerdasan
majemuk (multiple intelligences): visual-spasial,
musical, bodily-kinestetik, interpersonal, intrapersonal,
verbal-linguistik, naturalis, logic-matematika.
Contoh cara-cara yang dapat
dilakukan guru untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar murid
Guru dapat mengidentifikasi
kebutuhan murid dengan berbagai cara. Berikut ini adalah beberapa contoh
cara-cara yang dapat dilakukan guru untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar
murid:
mengamati perilaku murid-murid mereka; mengidentifikasi pengetahuan awal yang dimiliki oleh murid terkait dengan topik yang akan dipelajari; melakukan penilaian untuk menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka saat ini, dan kemudian mencatat kebutuhan yang diungkapkan oleh informasi yang diperoleh dari proses penilaian tersebut; mendiskusikan kebutuhan murid dengan orang tua atau wali murid; mengamati murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas; bertanya atau mendiskusikan permasalahan dengan murid; membaca rapor murid dari kelas mereka sebelumnya untuk melihat komentar dari guru-guru sebelumnya atau melihat pencapaian murid sebelumnya; berbicara dengan guru murid sebelumnya; membandingkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan tingkat pengetahuan atau keterampilan yang ditunjukkan oleh murid saat ini; menggunakan berbagai penilaian penilaian diagnostik untuk memastikan bahwa murid telah berada dalam level yang sesuai; melakukan survey untuk mengetahui kebutuhan belajar murid; mereview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran mereka sendiri untuk mengetahui efektivitas pembelajaran mereka dll.
Pembelajaran berdifferensiasi telah dilaksanakan di SDN Sendangmulyo 02
kelas 4B untuk memenuhi kebutuhan siswa. Pada pembelajaran seni rupa tersebut
kami melaksanakan pembelajaran berdifferensiasi produk yang disesuaikan dengan
minat anak, sehingga kebutuhan murid terakomodir dengan baik dan peserta didik
sangat antusias karena minat mereka tersalurkan melalui pembelajaran seni rupa.
Peserta didik kelas 4B membuat karya caping hias, membatik kain dan batik celup
untuk membuat taplak meja Umpan balik dan refleksi yang disampaikan peserta
didik peserta didik merasa senang mengikuti pembelajaran yang menyenangkan, harapannya
semoga pada pembelajaran berikutnya dilaksanakan dengan model pembelajaran
berdifferensiasi